Gencarkan Perkenalkan Yogyakarta

26 06 2008
Biaya Masuk ke Obyek Wisata Dinilai Terlalu Mahal

YOGYAKARTA, KOMPAS - Yogyakarta harus gencar dikenalkan ke dunia internasional sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia. Untuk itu, pemerintah diharapkan mendukung dengan menciptakan iklim wisata yang kondusif.

“Untuk pasar luar negeri, Yogyakarta sebenarnya sudah termasuk layak jual. Sayangnya, selama ini yang gencar dipromosikan hanya Bali, padahal peluangnya sangat besar untuk mengenalkan Yogyakarta juga,” ujar General Manager Garuda Indonesia Airlines Wilayah Shanghai, China, Syamsuddin J Souib di Yogyakarta, Rabu (25/6).

Dalam kegiatan familiarization trip, Garuda Indonesia mengajak perwakilan agen perjalanan wisata dari China untuk mengenal Yogyakarta. Diharapkan, agen perjalanan wisata tersebut tertarik memasukkan Yogyakarta sebagai salah satu kota tujuan dalam paket- paket wisata yang mereka tawarkan. Setidaknya, Yogyakarta dapat disandingkan dalam satu paket dengan Bali. Read the rest of this entry »





Mei Ini Candi Prambanan Boleh Dikunjungi

26 06 2008

YOGYAKARTA, RABU - Sejumlah bangunan candi di kompleks Candi Prambanan yang rusak akibat gempa bumi 27 Mei 2006 akan dibuka kembali untuk kunjungan wisatawan mulai Mei 2008.

“Para wisatawan akan bisa langsung masuk ke bangunan candi, karena sebagian pekerjaan renovasi telah selesai,” kata Direktur Operasonal dan Pengembangan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Ir Guntur Purnomo di Prambanan, Rabu.

Ia mengatakan, Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadwalkan tahap pertama pekerjaan renovasi untuk bangunan Candi Wisnu di kompleks Candi Prambanan selesai pada pertengahan Mei 2008.

Didampingi Direktur Administrasi dan Keuangan Drs Gendro Wiyono MM, Guntur mengatakan, disusul kemudian Candi Garuda juga dibuka untuk wisatawan pada Agustus mendatang, dan Candi Angsa dibuka kembali pada akhir Desember 2008. Read the rest of this entry »





Kalpataru

16 10 2007

 

  • Candi merupakan replika dari gunung Meru yang dihias dengan berbagai ragam hias yang disesuaikan dengan alam lingkungan gunung itu. Hiasan-hiasan itu antara lain berupa makhluk kahyangan, seperti Gana, Apsara, Vidyadara, Gandharwa, dan Kinara-Kinari.
  • Untuk lebih memperkuat kedudukannya sebagai perwujudan Meru maka pada beberapa candi juga dihias dengan kalpataru yang merupakan pohon kahyangan.
  • Kalpataru, atau yang disebut juga Kalpawrksa, merupakan sebutan pohon yang dikenal dalam mitos di India.
  • Pohon ini juga disebut Kalpadruma atau devataru dan termasuk satu dari lima jenis pohon suci yang ada di kahyangan Dewa Indra. Kelima pohon suci itu disebut pancawrksa, yang terdiri atas pohon Mandara, parijata, Samntana, Kalpawrksa, dan Haricandana.

Kalpataru

 

 

Kalpataru

 

  • Kalpataru berasal dari akar kata ‘kalp‘ yang berarti ‘ingin atau ‘keinginan‘, pohon yang dapat mengabulkan segala keinginan manusia yang memujanya.
  • Menurut Soediman, Kalpataru berasala dari kata ‘kalpa‘ yang berarti ‘masa dunia‘, suatu periode yang sangat lama, yaitu periode antara penciptaan dan penghancuran dunia. Serta, ‘taru‘ yang berarti ‘pohon‘.

 

Pemujaan Pohon

  • Dalam sejarahnya, pemujaan terhadap pohon sudah dikenal di India sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Pemujaan pohon ini bermula dari kepercayaan yang menganggap bahwa setiap benda yang terdapat di alam ini mempunyai kekuatan. Di atas semua itu ada sesuatu kekuatan besar yang disebut kekuatan supernatural.Kepercayaan ini muncul bersamaan dengan berkembangnya pemujaan terhadap tanah dan air. Read the rest of this entry »





Lwah Inalih Haken, Arti Kiasan atau Sebenarnya?

24 09 2007

Permasalahan

Lwah inalih haken adalah sepenggal kalimat yang terdapat dalam Prasasti Çiwagrha, yang berarti sugai dipindahkan. Pemindahan aliran sungai ini dilakukan karena tempat yang dilalui sungai itu akan didirikan sebuah kompleks bangunan suci (candi). Bangunan suci yang dimaksud dalam Prasasti Çiwagrha itu oleh para ahli dikaitkan dengan kompleks Candi Rara Jonggrang di Prambanan. Memang yang paling sesuai dengan gugusan candi seperti uraian dalam prasasti itu adalah Candi Roro Jonggrang. Jika ini benar berarti sungai yang dipindahkan alirannya adalah Sungai Opak yang terletak di sebalah barat candi. Permasalahannya, apakah dalam kenyataan Sungai Opak pernah mengalami pemindahan aliran sungai? Judul di atas muncul karena adanya kenyataan banhwa halaman ketiga dari kompleks Candi Rara Jonggrang ternyata tidak konsentris seperti dua halaman lainnya, tetapi agak menyerong seolah-olah untuk menghindari aliran sungai. Akibatnya, muncul pertanyaan apakah sebenarnya yang dipindahkan itu sungainya ataukah halaman ketiganya?

Ada dua ahli epigrafi yang menyebutkan adanya pemindahan aliran sungai itu berdasarkan terjemahan prasasti di atas. Namun, ternyata berbeda dalam penafsiran. Casparis menyatakan bahwa setelah kompleks percandian itu selesai dibangun maka dialihkanlah aliran sungai, sehingga menyusuri halaman candi. Sementara, Boechari justru menyatakan sebaliknya, yaitu sungai dipindahkan karena menyentuh halaman candi.

Kompleks Candi Rara Jonggrang memiliki tiga halaman, yaitu halaman I adalah halaman pusat atau halaman paling suci, halaman II pada bagian tengah, dan halaman III adalah halaman paling luar. Di sebelah barat candi mengalir Sungai Opak dan anak sungainya. Data empirik menunjukkan bahwa anak Sungai Opak ternyata mengalir melalaui halaman III atau halaman paling luar kompleks Candi Rara Jongrang, Jadi, masalahnya, jika benar ada pemindahan aliran sungai seperti yang disebutkan dalam Prasasti Çiwagrha maka sungai mana yang dipindahkan? Dan untuk membuktikan pendapat Casparis ataukah Boechari yang benar harus diketahui pada bagian mana aliran sungai yang dipindahkan itu. Read the rest of this entry »





Yantra dan Mandala dalam Arsitektur Candi

20 09 2007

Pendahuluan

  • Dalam tradisi Hindu, candi atau kuil dianggap sebagai tubuh atau surga para dewa.
  • Pada mulanya, bangunan keagamaan Hindu itu didirkan dalam bentuk kecil dan sederhana, selanjutnya dalam perkembangan berikutnya bentuk bangunan itu mengalami perubahan yang makin kompleks, baik dari segi denah, bentuk, dan ukurannya. Strukturnya juga mengalami perubahan ke arah yang semakin rinci dan terbagi ke dalam sejumlah besar bagian-bagian yang lebih kecil.
  • Perkembangan bentuk itu lalu diperkaya lagi dengan berbagai hiasan interior dan eksteriornya, yang umumnya berupa relief tokoh, flora, dan fauna. Termasuk relief dewa dan dewi serta gambaran kehidupan kahyangan. Kadang diceritakan pula episode-episode yang diangkat dari kisah-kisah tertentu.
  • Bila awalnya bangunan kuil atau candi berstruktur masif atau pejal, lalu berkembang menjadi bangunan yang berongga atau memiliki ruangan.

 

Gambar Potongan Barat - Timur Candi Çiwa, Prambanan

  • Sangat kontras dengan bagian dinding luarnya yang penuh hiasan, bagian dalam (garbhagrha) merupakan ruang kecil, gelap, dan tersembunyi yang dibatasi oleh dinding tebal disekelilingnya, kecuali bagian depan sebagai pintu masuk.
  • Bagian depan biasanya diperkaya dengan lorong panjang (antarala), dilengkapi dengan gapura dan sayap tangga yang berakhir pada suatu bordes. Umumnya, ujung bordes itu dihiasi dengan bentuk pahatan binatang mistis yang dikenal dengan nama makara.
  • Pada bagian atas pintu masuk, umumnya dihias dengan relief kepala raksasa. Di Indonesia, relief itu disebut kala untuk di Jawa Tengah dan Banaspati untuk sebutan di Jawa Timur. Perbedaannya dari bentuknya; kebanyakan kala dari Jawa Tengah tidak memiliki rahang bawah, sedangkan kala atau banaspati dari Jawa Timur digambarkan lengkap dengan rahang bawah.
  • Dinding-dinding luar maupun dalam sayap tangga sering pula diperkaya dengan ikon yang sarat motif hias.

 

  • Jika diproyeksikan dengan sederhana, bentuk kuil atau candi itu secara vertikal berkembang dari bagian bawah, yaitu bagian yang menggambarkan dunia manusia (the mundane) ke bagian yang lebih tinggi, yaitu dunia spiritual, dan berakhir pada ruang terbuka yang gelap tempat didudukkannya arca yang menggambarkan dewa yang dipuja.
  • Garbhagrha sendiri secara simbolis mencerminkan puncak pencapaian sasaran individu menuju ruang sanctum sanctorium.
  • Dalam dimensi yang lebih abstrak, apabila candi atau kuil itu merupakan suatu kompleks maka seluruh bangunan Hindu beserta komponennya itu mencerminkan suatu skema atau diagram ritual yang lebih sering disebut dengan istilah yantra atau mandala. Read the rest of this entry »





Trimūrti

20 09 2007

Menurut arti katanya, Trimūrti adalah “Tiga Badan”, dan maksudnya adalah Dewa yang tertinggi (Içwara) yang menjadikan dan menguasai alam semesta. Dewa ini berbadan tiga, sesuai dengan kekuasaan Içwara yang tiga macam; mencipta, memlihara atau melangsungkan, dan membinasakan. Ketiga macam kekuasaan yang masing-masing diwakili oleh satu badan dewa ini kemudian diwakili oleh seorang dewa. Demikianlah dewa pencipta adalah Brahma, dewa pemelihara adalah Wişņu, dan dewa pembinasa adalah Çiwa, dewa waktu.

Di antara ketiga dewa tertinggi itu hanya Wişņu dan Çiwa yang mendapat pemujaan luar biasa. Hal ini adalah wajar mengingat bahwa yang dihadapi manusia adalah apa yang sudah tercipta. Oleh karena itu, dewa pencipta dengan sendirinya terdesak oleh kepentingan manusia, yang lebih memperhatikan berlangsungnya apa yang sudah tercipta itu. Pun kenyataan bahwa segala apa akan binasa karena waktu, selalu memenuhi perhatian manusia.

Di antara para pemeluk agama Hindu, separuhnya lebih-lebih memuja Wisnu, separuhnya lagi memuja Çiwa. Para pemuja Wişņu (golongan Waşņawa) dan para pemuja Çiwa (golongan Çaiwa) tidak mengingkari kedudukan Trimurti, tidak pula beranggapan bahwa Wişņu dan Çiwa adalah dewa yang satu-satunya. Hanyalah ada pendapat bahwa bagi golongan Waişņawa, Çiwa itu adalah Wişņu dalam bentuknya sebagai dewa pembinasa, sedangkan sebaliknya bagi golongan Çaiwa, Wişņu adalah Çiwa sebagai pemelihara alam semesta. Read the rest of this entry »





Brahma

20 09 2007

Brahma adalah dewa yang menduduki tempat pertama dalam susunan dewa-dewa Trimūrti, sebagai dewa pencipta alam semesta. Mitologi tentang Brahma muncul pertama kali dan berkembang pada zaman Brahmāna. Brahma dianggap sebagai perwujudan dari Brahman, jiwa tertinggi yang abadi dan muncul dengan sendirinya. Menurut kitab Satapatha Brahmāna, dikatakan bahwa Brahmalah yang menciptakan, menempatkan, dan memberi tugas para dewa. Sebaliknya, di dalam kitab Mahabharata dan Purana dikatakan bahwa Brahma merupakan leluhur dunia yang muncul dari pusar Wisnu. Sebagai pencipta dunia, Brahma dikenal dengan nama Hiranyagarbha atau Prajapati.

Pencipta dunia

Dalam ajaran-ajaran Weda dikatakan bahwa pada mulanya di saat dunia masih diselubungi oleh kegelapan, ketiak belum tercipta apa pun, Ia, makhluk yang ada dengan sendirinya yang tanpa awal dan akhir, berkeinginan mencipta alam semesta dari tubuhnya sendiri. Mula-mula ia menciptakan air, kemudian menyebarkan bermacam-macam benih-benihan. Dari benih-benih ini kemudian muncul telur emas yang bersinar seperti cahaya matahari. Dari telur emas inilah Brahma lahir yang merupakan perwujudan dari Sang Pencipta itu sendiri. Menurut kitab Wişņu Purāna, telur emas itu merupakan tempat tinggal Sang pencipta selama ribuan tahun yang akhirnya pecah, dan muncullah Brahma dari dalamnya untuk mencipta dunia dengan segala isinya.

Brahma, seperti juga Çiwa dan Wişņu, memiliki bermacam-macam nama sebutan, di antaranya adalah Atmabhu (yang ada dengan sendirinya), Annawūrti (pengendara angkasa), Ananta (yang tiada akhir), Bodha (guru), Bŗhaspat (raja yang agung), Dhātā (pencipta), Druhina (sang pencipta), Hiranyagarbha (lahir dari telur emas), Lokesha (raja seluruh dunia), Prajāpati (raja dari segala makhluk), dan Swayambhū (yang ada dengan sendirinya). Di dalam mitologi Hindu dikatakan bahwa wahana (kendaraan) Brahma adalah hamsa (angsa). Read the rest of this entry »





Wişņu

20 09 2007

Dalam agama Hindu, Wişņu merupakan salah satu dewa Trimurti yang dianggap sebagai dewa pemelihara dunia. Pemujaan terhadap Wişņu telah disinggung dalam Ŗg-Weda, Yajur-Weda, Sama-Weda, dan Atharwa-Weda. Dalam kitab-kitab itu, Wişņu belum dianggap sebagai dewa yang tinggi kedudukannya seperti pada masa selanjutnya. Dikatakan bahwa Wişņu mempunyai sifat sebagai matahari, dan telah mengunjungi tujuh bagian dunia. Ia mengelilingi dunia dengan tiga langkah (tiwikrama). Wişņu merupakan dewa yang menjelma dalam tiga wujud; api, halilintar, dan sinar matahari. Ketiga wujud ini menunjukkan tiga wujud perjalanan matahari; terbit, mencapai cakrawala (zenit), dan terbenam. Kedudukan Wişņu sebagai dewa matahari dalam agama Hindu masih dikenal dalam bentuk samar-samar. Penyembahan pada Wişņu dalam bentuk matahari biasanya disebut Surya Narayana. Pemujaan Surya Narayana pada umumnya dikerjakan pada hari Minggu dan pada hari-hari besar tertentu. Dalam kitab Ŗg-Weda disebutkan bahwa Wişņu merupakan pelindung. Dari sinilah asal mula benih-benih yang kemudian berkembang menuju semakin tingginya kedudukan Wişņu di masa kemudian.

Peningkatan status Wişņu

Dalam kitab-kitab Weda, Wişņu kadang-kadang dianggap sebagai korban yajŋa, sehingga ia disebut sebagai yajŋa-Narayana. Tiga dewa serangkai yang disebut dalam kitab Weda sebagai prototype dari dewa Trimurti pada masa kemudian adalah Agni sebagai dewa dunia, Wayu sebagai dewa angkasa, dan Surya sebagai dewa langit. Hal itu didasarkan pada tugas Trimurti, yaitu membinasakan, yang biasa dilakukan oleh Çiwa, yang intinya dapat ditemukan dalam kekuatan yang dimiliki oleh angin ribut (Wayu). Bersama dengan Dewa Wayu yang dianggap sebagai dewa angin, dipuja pula Dewa Indra sebagai dewa matahari atau dewa dari angkasa yang terang benderang. Angkasa yang terang benderang ini dikuasai oleh Wişņu dan Indra. Menurut kitab Weda, Wisnu menerima warna biru dari Indra. Berkat Indra pulalah Wişņu mendapat sebutan Wasudewa. Demikian juga melalui Indra, dihubungkan dengan pahlawan dunia.

Dari kitab Mahābhārata dapat diketahui pertumbuhan Wişņu yang semakin meningkat. Wişņu yang mula-mula sebagai dewa matahari, kemudian meningkat menjadi salah satu dewa Trimurti dan kemudian menjadi tokoh sentral. Sejarah perkembangan kedudukan Wişņu dapat diikuti dengan jelas dalam kesusastraan India Kuno. Dalam epik Mahābhārata, Krsna dan Arjuna, meskipun tidak jelas hubungannya dengan Surya, dan berdasarkan sifat-sifat Indra yang menjadi dewa langit dapat diketahui dengan samar-samar hubungannya antara Surya dan Wişņu melalui Indra. Kedudukan Wişņu yang tinggi dan anggapan bahwa Wişņu merupakan salah satu dari Dewa Trimurti dapat ditemukan dalam kitab-kitab Itihasa dan Purana serta kitab-kitab kesusastraan India yang membicarakan tentang ilmu arca. Read the rest of this entry »





Çiwa

19 09 2007

Çiwa dalam mitologi Hindu dikenal sebagai dewa tertinggi dan banyak pemujanya. Mitos Çiwa dapat dijumpai dalam beberapa kitab suci agama Hindu, yakni kitab-kitab Brāhmana, Mahābhārata, Purāna, dan Āgama.

Dalam kitab Hindu tertua, Weda Samhita, walaupun nama Çiwa sendiri tidak pernah dicantumkan, tetapi sebenarnya benih-benih perwujudan tokoh Çiwa itu sendiri telah ada, yaitu Rudra. Dalam Ŗg-Weda salah satu Weda Samhita, disebutkan Rudra sebagai dewa perusak dan tergolong sebagai dewa bawahan. Rudra dikenal sebagai penyebab kematian, dewa penyebab dan penyembuh penyakit, juga dianggap sebagai desa yang menguasai angin topan. Untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk itu maka Rudra dipuja secara istimewa dengan doa-doa khusus untuk menenangkan dan menghilangkan kemarahannya.

Namun, sebagai dewa rendahan, walaupun banyak dipuja, Rudra belumlah merupakan dewa tertinggi dan dianggap penting. Pada waktu itu yang dianggap sebagai dewa tertinggi dan dianggap penting adalah Indra. Baru pada kitab Brāhmana, Rudra diberi nama Çiwa dan kedudukannya pun terus meningkat, sehingga menjadi dewa utama. Read the rest of this entry »





Matarām

18 09 2007

Sekilas tentang Kerajaan Hindu – Buddha Masa Jawa Kuno

Matarām di Jawa Tengah

Kerajaan Matarām kita kenal dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Canggal (barat daya Magelang). Prasasti ini berangka tahun 732 M, ditulis dengan huruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sanskerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Çiwa) di atas sebuah bukit di daerah Kuŋjarakuŋja oleh Raja Saŋjaya. Daerah ini letaknya di sebuah pulau yang mulia, Yāwadwîpa, yang kaya raya akan hasil bumi, terutama padi dan emas.

Peta Indonesia dan Jawa Tengah

Yāwadwîpa ini mula-mula diperintah oleh Raja Sanna, yang lama sekali memerintah dengan kebijaksanaan dan kehalusan budi. Setelah Raja Sanna wafat, pecahlah negaranya, kebingungan karena kehilangan perlindungan. Naiklah ke atas tahta kerajaan, Raja Saňjaya, anak Sannāhā (saudara perempuan Sanna), seorang raja yang ahli dalam kitab-kitab suci dan dalam keprajuritan. Ia menaklukkan berbagai daerah di sekitar kerajaannya dan menciptakan ketentraman serta kemakmuran yang dapat dinikmati oleh rakyatnya.

Sanna dan Saňjaya terkenal pula dari Carita Parahyangan, sebuah kitab dari zaman kemudian sekali yang terutama menguraikan sejarah Pasundan. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Sanna dikalahkan oleh Purbasora dari Galuh dan menyingkir ke Gunung Merapi. Tetapi, penggantinya, Saňjaya, kemudian menaklukkan Jawa Barat dan kemudian Jawa Timur serta Bali. Pun Malayu dan Keling (dengan rajanya Sang Çriwijaya) diperanginya. Dalam garis besarnya, cerita ini sesuai juga dengan Prasasti Canggal.

Mendirikan sebuah lingga secara khusus adalah lambang mendirikan suatu kerajaan. Bahwa Sanjaya memang dianggap sebagai Wamçakarta dari Kerajaan Matarām, dinyatakan juga dari prasasti-prasasti para raja yang berturut-turut menggantikannya. Di antara prasasti-prasasti itu ada beberapa dari Balitung yang memuat silsilah, dan yang menjadi pangkal silsilah itu adalah Raka i Matarām Sang ratu Saňjaya. Bahkan ada pula prasasti-prasasti yang menggunakan tarikh Saňjaya! Dari kedua kenyataan ini dapatlah jelas betapa besarnya arti Saňjaya itu bagi raja-raja yang kerajaannya berpusat di Jawa Tengah sampai abad X M. Read the rest of this entry »