Yantra dan Mandala dalam Arsitektur Candi

20 09 2007

Pendahuluan

  • Dalam tradisi Hindu, candi atau kuil dianggap sebagai tubuh atau surga para dewa.
  • Pada mulanya, bangunan keagamaan Hindu itu didirkan dalam bentuk kecil dan sederhana, selanjutnya dalam perkembangan berikutnya bentuk bangunan itu mengalami perubahan yang makin kompleks, baik dari segi denah, bentuk, dan ukurannya. Strukturnya juga mengalami perubahan ke arah yang semakin rinci dan terbagi ke dalam sejumlah besar bagian-bagian yang lebih kecil.
  • Perkembangan bentuk itu lalu diperkaya lagi dengan berbagai hiasan interior dan eksteriornya, yang umumnya berupa relief tokoh, flora, dan fauna. Termasuk relief dewa dan dewi serta gambaran kehidupan kahyangan. Kadang diceritakan pula episode-episode yang diangkat dari kisah-kisah tertentu.
  • Bila awalnya bangunan kuil atau candi berstruktur masif atau pejal, lalu berkembang menjadi bangunan yang berongga atau memiliki ruangan.

 

Gambar Potongan Barat - Timur Candi Çiwa, Prambanan

  • Sangat kontras dengan bagian dinding luarnya yang penuh hiasan, bagian dalam (garbhagrha) merupakan ruang kecil, gelap, dan tersembunyi yang dibatasi oleh dinding tebal disekelilingnya, kecuali bagian depan sebagai pintu masuk.
  • Bagian depan biasanya diperkaya dengan lorong panjang (antarala), dilengkapi dengan gapura dan sayap tangga yang berakhir pada suatu bordes. Umumnya, ujung bordes itu dihiasi dengan bentuk pahatan binatang mistis yang dikenal dengan nama makara.
  • Pada bagian atas pintu masuk, umumnya dihias dengan relief kepala raksasa. Di Indonesia, relief itu disebut kala untuk di Jawa Tengah dan Banaspati untuk sebutan di Jawa Timur. Perbedaannya dari bentuknya; kebanyakan kala dari Jawa Tengah tidak memiliki rahang bawah, sedangkan kala atau banaspati dari Jawa Timur digambarkan lengkap dengan rahang bawah.
  • Dinding-dinding luar maupun dalam sayap tangga sering pula diperkaya dengan ikon yang sarat motif hias.

 

  • Jika diproyeksikan dengan sederhana, bentuk kuil atau candi itu secara vertikal berkembang dari bagian bawah, yaitu bagian yang menggambarkan dunia manusia (the mundane) ke bagian yang lebih tinggi, yaitu dunia spiritual, dan berakhir pada ruang terbuka yang gelap tempat didudukkannya arca yang menggambarkan dewa yang dipuja.
  • Garbhagrha sendiri secara simbolis mencerminkan puncak pencapaian sasaran individu menuju ruang sanctum sanctorium.
  • Dalam dimensi yang lebih abstrak, apabila candi atau kuil itu merupakan suatu kompleks maka seluruh bangunan Hindu beserta komponennya itu mencerminkan suatu skema atau diagram ritual yang lebih sering disebut dengan istilah yantra atau mandala.

 

Yantra

  • Kata yantra berasal dari bahasa Sanskrta yang berarti alat atau sarana; dan secara lebih khusus digunakan untuk menyebut alat yang digunakan oleh para yogi atau brahmana untuk bermeditasi.
  • Dalam beberapa hal, yantra juga dianggap sebagai wadah atau tempat bagi istadewata.
  • Secara lebih spesifik lagi, kata yantra yang berasal dari akar kata “yam” juga berarti mendukung, menopang, atau menyokong kekuatan-kekuatan yang melekat pada suatu unsur, objek, atau konsep.
  • Oleh karena sifatnya itu, maka pada hakekatnya yantra itu memiliki tiga unsur utama, yaitu unsur bentuk (akriti-rupa), unsur fungsi (kriya-rupa), dan unsur kekuatan (çakti-rupa).
  • Di sisi lain, oleh karena yantra juga dianggap sebagai tempat kedudukan atau wadah bagi Istadewata maka yantra itu juga merupakan wujud pengganti dari dewa utama yang tidak digambarkan dalam bentuknya secara antropomorfis.

 

  • Di India, penggambaran dewa-dewa seperti Wisnu, Durga, atau Kali, selain memiliki bentuk antropomorfis juga sering diwujudkan dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk yantra.
  • Di India Selatan, peran yantra sangat penting, terutama dalam mendirikan bangunan-bangunan suci yang diperuntukkan bagi Çakti.
  • Yogini yantra adalah simbol-simbol yang berbentuk sejumlah segitiga yang ditumpuk dengan pola-pola tertentu, diangkat dan dijadikan pedoman untuk pembangunan sebuah kuil.
  • Dalam Tantrisme, penggunaan yantra untuk pembangunan candi memiliki pengaruh yang sangat kuat, khususnya dalam pembangunan candi atau kuil yang digunakan untuk pemujaan Çakti.

 

  • Yantra juga diletakkan dalam pondasi garbhagrha, serta pada sudut-sudut penting di suatu candi.
  • Yantra juga berpengaruh pada komposisi berbagai pahatan arca yang menempel atau menghiasi, baik dinding luar maupun dinding dalam candi.

 

  • Akhir-akhir ini, dari penemuan manuskrip yang ditemukan di Orissa (Silpa-Prakasa) yang berasal dari abad 9 – 12 M, diperoleh gambaran tentang candi dan upacara perencanaan candi yang dikenal dengan aliran kanan (menganankan bangunan).
  • Menurut buku petunjuk ini maka sebelum suatu kuil didirikan, terlebih dahulu harus ditancapkan sebuah pasak di tanah yang menyimbolkan sebagai axis uatama dari alam semesta yang disebut dengan istilah yantra garbha (the womb of the yantra). Kemudian, dari titik sentral itu ditarik garis melingkar, termasuk ke sepuluh penjuru mata angin, termasuk zenit dan nadir. Masing-masing arah itu dianggap merupakan tempat kedewaan dan dari kesepuluh titik itulah perencanaan suatu kuil dilakukan.
  • Secara prinsip, gambaran tentang candi untuk dewi Tantris itu berbeda dengan Vastu-Purusha-Mandala. Jika Vastu-Purusha berbentuk persegi, sedangkan kuil tantris ini berbentuk persegi panjang. Bila bentuk persegi itu merupakan bentuk yang dianggap bersifat statis maka bentuk kuil persegi panjang menyimbolkan kesinambungan secara ritmis dari sikap yang dimainkan dewi serta kekuatan-kekuatan yang tidak tampak.

 

  • Di India, bentuk yantra yang paling terkenal adalah yang disebut Çricakra. Bentuk ini tersusun dari 43 buah bentuk segitiga yang ditumpuk dan garis-garisnya saling berpotongan, sehingga membentuk pola tertentu yang menggambarkan Meru, Kailasa, atau Bhu.
  • Bangunan-bangunan di India Selatan pada masa pertengahan misalnya, banyak yang menggunakan konsep ini dan oleh karenanya disebut Çakti-pithalaya.
  • Pada umumnya yantra itu dibuat pada logam seperti emas, perunggu, atau perak dengan dilengkapi tulisan-tulisan dewanagari. Tulisan-tulisan ini menyebut atau melambangkan dewa-dewa tertentu sesuai dengan letak atau kedudukannya.
  • Secara khusus, bangunan yang mencerminkan yantra seperti itu di India ditemukan pada kuil Surya yang terdapat di Konarak dekat Bhuwanesar di wilayah Orissa yang dibangun pada sekitar tahun 1240 M-80, dan dipersembahkan bagi Dewa Surya, dewa matahari, sumber segala terang bagi dunia dan kejiwaan.
  • Penelitian akhir-akhir ini memperlihatkan bahwa gambaran tentang yantra itu telah melekat di bagian lapik tempat kedudukan Dewa Surya.
  • Secara arsitektural, kuil ini memiliki dua struktur utama, yaitu sebuah menara yang tinggi (Wimana) yang kini telah runtuh serta sebuah selasar dan altar berbentuk piramidal (Jagamohana) dan berakhir pada ruangan candi.
  • Tata cara meletakkan yantra di dalam suatu candi serta cara-cara pemujaan terhadap dewa-dewanya itu banyak diuraikan di dalam buku-buku Tantris.
  • Di Indonesia, bangunan Candi Borobudur yang memiliki 9 teras atau tingkatan merupakan salah satu contoh Çri-Yantra.
  • Bangunan ini didirikan pada pondasi persegi dengan empat pintu masuk. Masuk (gapura pintu masuk) serta lima tembok keliling di masing-masing terasnya serta tiga teras lagi yang melingkar dan dipenuhi dengan arca-arca Buddha. Akhirnya pada tingkat yang kesembilan yang merupakan mahkotanya memiliki stupa induk yang merupakan kekuasaan dari Buddha tertinggi.
  • Çri Yantra sendiri pada dasarnya memiliki tiga dimensi, sebagaimana halnya dengan gunung yang berteras-teras.
  • Baik antara Yantra dan Stupa memiliki kesamaan skema kosmologis, yaitu menggambarkan dunia gunung mistis, yaitu Gunung Meru.
  • Untuk memahami secara utuh gambaran tentang Borobudur maka harus dipahamai melalui Çri Yantra.

Penampang Candi Borobudur

  • Teras-teras yang ada di Borobudur itu sendiri juga dapat dianggap sebagai tingkatan-tingkatan perjalanan jiwa dalam mencapai kesempurnaan.
  • Di dalam stupa seolah-olah digambarkan perjalanan dimulai dari bawah dengan keempat pintunya, selanjutnya makin naik melingkar menyerupai spiral hingga mencapai tingkatan yang kosong, seolah-olah berkembang dari dunia keberadaan menuju dunia jiwa. Hal ini sangat sesuai dengan perjalanan sadhaka dari dunia material menuju dunia spiritual selama menyelenggarakan meditasi Çri Yantra.
  • Dalam kaitannya dengan arsitektur, suatu yantra bukanlah merupakan denah (ground-plan) untuk suatu candi, melainkan skema dasar tentang denah-denah suci dalam pembangunan suatu candi yang harus dipenuhi.
  • Dasar anggapan ini terutama karena dimensi serta ukuran arsitektur kuil atau candi dianggap sebagai hal yang sifatnya spesifik dan oleh karenanya maka diperlukan aturan-aturan yang sifatnya ritual dalam rangka menyusun kerangka dasarnya.
  • Oleh karena sifatnya yang sakral itu maka pembangunan suatu candi atau kuil ahrus benar-benar mengikuti aturan yang ditentukan dalam agama dan tidak boleh diubah secara semena-mena atau sekehendak hati pembuatnya.
  • Selain dalam bentuk skema mengenai denah bangunan suci, benda-benda suci seperti lingga juga dianggap sebagai yantra. Menurut Bosch, sebagaimana dikutip oleh K’o Tsung Yuan, bahwa bentuk Lingodbhawamurti dari Çiwa telah menjadi simbol kosmis yang bagian dasarnya berbentuk persegi (Brahmabhaga), di atasnya berbentuk segi delapan (Wisnubhaga), dan bagian ujung atasnya yang bulat/silinder melambangkan Çiwa sebagai Rudra atau Rudrabhaga.

Mandala

  • Meskipun kata ini sudah sering didengar, tetapi masih sering dijumpai kesalahan pemahaman.Seperti yang ditunjukkan oleh Pott mengenai penyebutan mandala yang sering digunakan untuk menyebutkan lukisan-lukisan pada kain yang biasa disebut pata. Padahal, tidak setiap pata merupakan mandala.
  • Secara sederhana kata mandala dapat dipahami sebagai konfigurasi kosmis yang menggambarkan ploting kedudukan dewa-dewa secara hierarkis.
  • Pada mulanya, konfigurasi bentuk mandala itu berkembang dari bentuk persegi yang mewakili keempat penjuru mata angin, selanjutnya berkembang menjadi bentuk segi delapan, dua belas, tigapuluh dua, dan seterusnya, sehingga membentuk diagram-diagram tertentu.
  • Dari sejumlah besar titik sudut itu maka bagian tengah merupakan bagian yang paling penting karena menjadi tempat kedudukan arca utama atau simbol lain yang menggantikan arca itu.
  • Titik-titik di bagian luarnya secara melingkar dan mengelilingi titik tengah tadi merupakan tempat kedudukan dewa-dewa lain yang lebih rendah.

Diagram Lingkaran Dewa-Dewa Lokapala, Suatu Mandala

  • Secara sistematis dan hierarkis, struktur dan hubungan antara dewa yang satu dengan yang lain, baik yang setingkat maupun yang tidak setingkat, baik secara vertikal maupun horisontal, secara keseluruhan saling terkait satu sama lain.
  • Secara integral, konfigurasi dari dewa-dewa itu dapat digunakan sebagai sarana untuk meditasi dan di dalam ritual dapat berfungsi sebagai wadah bagi dewa-dewa itu.
  • Untuk membedakan antara yantra dan mandala itu sendiri dapat dilihat melalui penggambaran dewa-dewa atau simbol-simbol tentang dewa itu. Di dalam mandala, umumnya, dewa-dewa itu digambarkan dalam wujud yang sangat raya dan lengkap hingga ke bagian-bagian detailnya.
  • Sesuai dengan fungsinya di atas, yaitu sebagai sarana meditasi atau sebagai wadah dari dewa-dewa maka suatu mandala setidak-tidaknya dapat dibedakan dalam beberapa tipe bentuk apakah ia berfungsi sementara ataukah ia berfungsi permanen.
  • Suatu mandala dapat diwujudkan dalam bentuk gambar atau lukisan, dapat terbuat dari bahan-bahan yang bersifat plastis, seperti pasir, nasi, atau mentega. Namun, juga dapat diwujudkan dalam bentuk komposisi sejumlah arca perunggu dan dalam bentuk suatu bangunan.
  • Pada awal mulanya, kata mandala hanya berasosiasi dengan bangunan suci atau tempat suci yang berkembang pada zaman Weda.
  • Namun, dalam perkembangannya kemudian kata mandala itu berkembang dan digunakan untuk menunjuk bentuk, gejala, ataupun aktivitas yang cenderung berpola melingkar.
  • Kata-kata seperti candramandala (lingkaran orbit bulan), suryamandala (lingkaran orbit matahari), dan mandala-nrtya (menari melingkar), mandala-nyasa (gambar lingkaran), mandalasana (duduk melingkar), serta mendalanabhi (pusat lingkaran) sering dijumpai dalam literatur Weda. Secara keseluruhan, kata-kata itu menyimbolkan kosmos, keutuhan, atau integrasi bagian secara keseluruhan.
  • Dalam perkembangan berikutnya, kata mandala yang semula berarti lingkaran kemudian mengalami adaptasi perkembangan bentuk lebh lanjut menjadi persegi, persegi panjang, segitiga, dan sebagainya.
  • Namun, dari bentuk-bentuk itu yang dianggap paling penting adalah bagian yang paling tengah karena dianggap memiliki inti kekuatan mistis yang mampu memberikan atau menyebarkan kekuatan itu ke seluruh penjuru mata angin.
  • Berdasarkan uraian tentang bentuk dan perkembangannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara umum kata mandala setidak-tidaknya memiliki sejumlah pengertian:
  1. Sesuatu yang bersifat bulat, seperti bulan, matahari, nampan, atau roda.
  2. Sebuah distrik, provinsi, atau negara; atau secara ringkas merupakan suatu lingkaran wilayah kekuasaan dengan seluruh bawahannya yang terlibat dalam hubungan politik dan diplomatik.
  3. Kumpulan orang banyak, masyarakat, dan kelompok.
  4. Suatu kosmogram yang digunakan dalam agama Buddha Tantris untuk meditasi dan atau meditasi baik dalam bentuk lukisan maupun sesuatu yang memiliki bentuk tiga dimensi, baik yang berbentuk persegi maupun lingkaran dan secara hierarkis posisi di bagian tengah merupakan tempat yang paling suci.

Candi Borobudur Arupadhatu Borobudur

  • Di Indonesia, bangunan yang mencerminkan bentuk mandala yang termasyur adalah Candi Borobudur dan Candi Sewu.
  • Menurut penelitian Lokesh Chandra, Borobudur merupakan gambaran atau bentuk dari Vajradhatu Mandala yang berkembang dalam aliran Yoga Tantra dan bangunan ini merupakan bagian yang integral dari tiga serangkai, yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon.
  • Candi Mendut sendiri merupakan gambaran dari Garbhadhatu Mandala yang berkembang dalam aliran Carya Tantraya.

Candi Mendut, Gambar Rekonstruksi Van Erp

  • Candi Sewu, walaupun di relung-relungnya tidak ditemukan arca lagi, Bosch percaya bahwa komposisi arca-arca yang pernah menempati relung-relung di bagian candi ini dahulu menggambarkan Vajradhatu Mandala.

Candi Sewu, Denah Gugusan Percandian

  • Beberapa bentuk arca perunggu yang juga dianggap menggambarkan mandala adalah arca-arca perunggu yang ditemukan di Nganjuk, Jawa Timur.
  • Meskipun agak ragu-ragu, Bosch memperkirakan bahwa arca-arca tersebut juga mencerminkan konfigurasi Vajradhatu Mandala, tetapi dari transformasi sekte tersendiri.
  • Sejumlah arca perunggu yang ditemukan di Surocolo, Bantul, seluruhnya ada 22 buah arca dan 19 buah di antaranya merupakan arca dewi. Beberapa di antaranya yang dapat disebutkan adalah arca Gita Tara, Dhupa Tara, Gandha Tara, Wajrasphota, Wajra Warahi, dan sebagainya.
    Seluruh arca yang ditemukan itu diperkirakan berasal dari abad X – XI M yang secara keseluruhan merupakan konfigurasi Vajradhatu Mandala dalam pantheon agama Buddha.
  • Selain dalam bentuk bangunan candi atau kuil serta susunan arca, suatu mandala juga dapat berbentuk struktur tata kota.
  • Dalam sejumlah prasasti dari masa Çriwijaya misalnya, dapat diketahui bahwa Datu Çriwijaya ditempatkan di bagian tengah yang merupakan inti medan kekuatan dari kerajaan.
  • Jauh di luar tempat kedudukan Datu Çriwijaya dan terutama di wilayah sistem jaringan Sungai Musi dan Batanghari merupakan daerah mandala Çriwijaya. Di daerah inilah berkuasa para datu wilayah yang terdiri dari para pemimpin lokal dan juga keluarga Datu Çriwijaya.
  • Para datu itu meskipun memiliki kekuasaan sendiri dalam mengatur daerahnya, tapi dalam sistem ekonomi, mereka sangat bergantung pada penguasa Datu Çriwijaya yang mengendalikan jaringan distribusi barang maupun jasa dari luar maupun dari dalam.
  • Meskipun kata mandala pada dasarnya berangkat dari pengertian tentang peta mengenai kosmos alam semesta dengan sleuruh esensi perencanaannya, serta asal-usul dan akhirnya, tetapi lalu juga memiliki implikasi politis di dalam penerapannya, khususnya di bidang pemerintahan.
  • Dalam struktur negara-negara klasik, baik di Asia Tenggara daratan maupun kepulauan yang pernah tersentuh oleh kebudayaan India, maka unit-unit politiknya, baik yang berskala regional maupun supraregional diatur dan diorganisasikan menurut konsep-konsep model pusat dan pinggiran yang secara keseluruhan menggambarkan mandala.
  • Beberapa contoh: Kerajaan Sukothai di Thailand menurut sumber-sumber tertulis terbagi antara wilayah inti dan pinggiran. Kerajaan Angkor menurut Prasasti Suryawarman I (1002-1050) disebutkan pembagian wilayahnya menjadi tiga, yaitu praman, wisaya, dan sruk; yang berarti wilayah, distrik, dan desa, dan lain sebagainya.
  • Secara konseptual berdarakan bentuk dan fungsinya, suatu mandala juga dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, a.l.:
  1. Mahadatumandala (representasi piktorial dewa-dewa)
  2. Samayamandala (representasi tentang dewa-dewa yang hanya diwujudkan dalam bentuk atributnya)
  3. Bija-mandala (gambaran dewa-dewa yang hanya diwujudkan dalam bentuk huruf-huruf bija atau sekumpulan tulisan-tulisan nagari)
  4. Karma-mandala (representasi yang menggambarkan dewa-dewa dalam bentuk berbagai sikap atau gerak dan diwujudkan dalam berbagai bentuk mudra atau simbol).
  • Sejumlah besar bata bertulis yang ditemukan di gugusan candi di Muara Jambi misalnya, banyak di antaranya yang merupakan bentuk mandala.
  • Pada bata-bata itu digoreskan gambar bunga padma yang sedang mekar dengan kelopak bunganya terdiri dari 8 kelopak bunga. Pada setiap kelopak bunga biasanya dipahatkan satu atau dua huruf nagari yang bacanya melambangkan nama-nama dewa tertentu.
  • Oleh karena gugusan percandian Muara Jambi adalah gugusan candi yang berlatar belakang agama Buddha maka sudah tentu dewa-dewa yang dimaksud adalah dewa-dewa yang ada dalam pantheon agama Buddha.
  • Dari jenis-jenis mandala yang telah disebutkan di atas dapat dikatakan bahwa bata-bata bergambar bunga padma itu dapat dimasukkan dalam kelompok biji-mandala.
  • Selain bata bertulis, temuan lain dari Muara Jambi yang juga menggambarkan mandala adalah temuan peripih di Candi Gumpung. Dari dalam peripih iini ditemukan lempengan-lempengan kertas emas dan 22 di antaranya menyebut nama-nama dewa dan dewi Vajradhatumandala yang seharusnya berjumlah 37 nama dewa, terdiri dari 5 Tathagata, 16 Boddhisattwa, dan 16 Vajratara.
  • Dapatlah diyakinkan bahwa dewa-dewa itu merupakan kelompok dalam pantheon agama Buddha Mahayana dan oleh karenanya dapat digunakan sebagai petunjuk tentang latar belakang keagamaan bangunannya.
  • Dalam sebagian besar buku pegangan tentang tata cara pembangunan suatu kuil Hindu dinyatakan bahwa setiap bangunan kuil harus mengikuti kerangka-kerangka dasar yang sederhana, seperti halnya yantra.
  • Kerangka dasar ini dalam istilah yang paling umum dinamakan Vastu-Purusha-Mandala.
  • Vastu-Purusha-Mandala berlaku pula bagi pembangunan suatu kota, desa, perbentengan, atau seluruh hal yang berkaitan dengan dimensi keruangan.
  • Pada dasarnya, diagram ini merupakan suatu jejak (tapak) mengenai kosmos dan menampakkan bentuk yang dianggap sebagai Purusha yang universal dalam suatu mandala di dunia yang fenomenal.
  • Secara tepat proporsi, Vastu-Purusha-Mandala itu sendiri tidak penting karena tidak pernah secara tepat merupakan cetak biru tentang candi atau kuil, melainkan seuatu prognosi atau ramalan atau perkiraan yang memuat kemungkinan-kemungkinan untuk dijadikan acuan bagi pembangunan kuil.
  • Diagram-diagram ritual itu sendiri merupakan ideogram, sementara candinya sendiri merupakan materialisasi dari konsep yang tersembunyi di dalamnya.
  • Vastu-Purusha-Mandala pada dasarnya berbentuk persegi dari sejumlah persegi yang dikonversikan dalam bentuk persegi-persegi utama.
  • Ukuran yang paling sederhana terdiri dari bentuk persegi yang berjumlah 64 (8 x 8) atau 9 (9 x 9).
  • Bagian inti yang terdiri dari 4 atau 9 bagian ditujukan/diperuntukkan bagi dewa-dewa utama, yakni Brahma.
  • Apabila mandala itu diperuntukkan kepada kepentingan arsitektural maka titik yang terletak di bagian tengah itu merupakan garbhagrha.
  • Dua belas persegi yang mengelilingi lingkaran inti itu diperuntukkan sebagai persinggahan/kedewaan yang mengacu pada kedelapan arah utama.
  • Di luar itu terdapat 32 titik yang berkaitan dengan dewa-dewa tertentu.
  • Oleh karena itulah, maka diagram sederhana itu tidak hanya menggambarkan energi dari empat penjuru mata angin, melainkan juga memiliki konotasi astronomis, yang mencerminkan perubahan siklus muali hari, minggu, bulan, tahun, dan sebagainya.
  • Mandala ini yang di dalam buku pegangan arsitektur Hindu terdiri dari 32 variasi merupakan tipe awal dari bentuk yantra yang secara substansial memberikan kontribusi bagi ritme, desain, dan dasar-dasar konsepsual mengenai bentuk-bentuk kuil Hindu.
  • Yantra untuk arsitektur di wilayah India Selatan umunya dibuat untuk merefleksikan perbedaan mengenai pandangan tentang kosmos.
  • Bentuknya mencerminkan bentuk tiga buah persegi yang saling menutupi dan persegi yang paling tengah (paling dalam) merupakan dunia universal.
  • Apabila persegi di bagian tengah dianggap sebagai dunia dewa-dewa maka persegi lainnya yang terletak di luar merupakan dunia alam semesta atau dunia bawah, yaitu dunia manusia.
  • Sthandila mandala di India Selatan tidak berbeda dengan arsitektur yantra India Utara karena komposisinya terdiri dari 49 persegi.
  • Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa arsitektur yantra merupakan simbol tentang konstruk matematis yang tidak pernah memberikan indikasi praktis.
  • Vastu-Purusha-Mandala merupakan gambaran mengenai posisi arca dewa-dewa di dalam suatu candi.
  • Apabila Vastu-Purusha-Mandala itu digunakan sebagai dasar untuk perencanaan suatu kota maka orientasi atau arah hadap kota itu harus memperhatikan kedudukan candinya.
  • Berdasarkan sumber-sumber tertulis diketahui bahwa pada masa lampau dikenal adanya tiga pola kesatuan sistem kewilayahan, yaitu rajya, watak, dan wanua.
  • Sistem kewilayahan itu tentu saja diikuti pula dengan sistem percandiannya, seperti pada masyarakat Bali sekarang yang mengenal sistem perpuraan yang terdiri dari tiga pura pokok, yaitu pura puseh, pura bale agung, dan pura dalem.
  • Meskipun pada dasarnya hal yang menyangkut denagn sistem perpuraan atau sistem percandian itu merupakan sesuatu yang sakral sifatnya, tetapi tidak pula tertutup kemungkinannya bila faktor lingkungan akan berpengaruh pula dalam menentukan keletakan desa, kota, maupun candinya.
  • Sebelum suatu kuil didirikan, maka yang lebih dahulu dilakukan ialah membersihkan tanah, dilakukan upacara dan penyucian dan oleh karenanya bangunan itu dapat menggambarkan kekuatan yang muncul dari Vastu-Purusha (kekuatan yang hakiki).

Kuil atau Candi

  • Kuil atau candi merupakan tempat melakukan pemujaan (pujasthana) dan esensi dari pemujaan itu sendiri menghubungkan antara manusia dengan Tuhan / Dewa.
  • Manusia merupakan suatu medan kekuatan, baik fisik maupun psikologis yang memiliki keterbatasan dan kekurangan. Sementara, dewa atau Tuhan kemampuannya tidak terbatas.
  • Dengan menyandarkan diri pada pengaruh kekuatan yang maha kuasa itu manusia mencoba untuk mengatasi keterbatasan dan ketidakmampuannya.
  • Di India, pemujaan dilakukan baik pada kuil keluarga maupun pada kuil komunal.
  • Kuil keluarga biasanya disebut grhachana, sedangkan kuil yang bersifat komunal disebut alayarchana. Ada perbedaan di antara keduanya karen yang pertama dibangun umumnya lebih sederhana, sedangkan yang kedua dibangun lebih raya.
  • Pemujaan yang dilakuakn dirumah biasanya menggunakan mediator arca-arca kecil dari perunggu atau logam yang lain dan dilakukan setiap hari. Oleh karena sangat privat sifatnya maka ruang upacaranya pun dibuat secukupnya.
  • Ikon sebagai objek pemujaan itu sendiri akan memperoleh kedudukan serta memiliki arti kedewaan sepanjang upacara dilangsungkan yang dikenal dengan istilah pranapratistha.
  • Ketika upacara telah selesai maka ikon itu akan kehilangan maknanya dan fungsinya atau disebut wisarjana.
  • Di sisi lain, pada kuil komunal, kondisi ikon yang umumnya dibuat dari batu dan diletakkan di dalam sanctum (tempat suci/tempat menyendiri), selalu diliputi oleh kekuatan dan selalu dalam status kedewaan.
  • Upacara yang dilangsungkan di suatu kuil yang bersifat komunal dilakukan beberapa kali dalam sehari yang masing-masing memerlukan suatu ritual yang rumit.
  • Pembangunan suatu kuil pada prinsipnya didasarkan pada aturan yang terdapat di dalam teks-teks agama.
  • Oleh karenanya, fungsi kuil tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fungsional, melainkan juga esensinya memiliki makna yang bersifat simbolis.
  • Simbolisasi kuil atau candi dan bagian-bagiannya itu antara lain ditemukan dalam kitab Içwara-samhita.
  • Di sini dijelaskan bahwa ruangan candi/sanctum (garbhagrha) merupakan kepala dari dewa, menara yang menutupi sanctum (sikhara) merupakan jalinan rambut dewa, bagian depan/vestibula (sukanasi) merupakan hidungnya, aula/ruang depan/balairung yang ada di depannya (antarala) merupakan lehernya, paviliun (mandapa) merupakan tubuhnya, pagar keliling (prakara) merupakan tangan /lengan-lengannya, dan pintu gerbangnya (gopura) merupakan kaki-kakinya.
  • Di sisi yang lain, menurut Çri-prasnasamhita disebutkan bahwa suatu kuil merupakan gambaran tentang dewa itu sendiri, sedangkan ikon yang ada di dalamnya merupakan jiwanya.
  • Dengan kata lain, kuil merupakan simbolisasi dalam kerangka fisik bagi dewa yang hadir. Maka dari itu, ruangan suci tempat ikon itu diletakkan merupakan bagian yang paling penting dari sebuah kuil. Sementara, ikon merupakan detail yang paling utama dalam suatu sanctum.

Kedudukan Yantra dan Mandala terhadap Candi

  • Antara yantra dan mandala dalam suatu bangunan sangatlah penting artinya karena unsur-unsur inilah yang dianggap memberikan kekuatan hidupnya suatu kuil atau candi.
  • Istilah pendeman, peripih, atau sejenisnya yang sering ditemukan di dalam candi atau kuil pada dasarnya tidak jauh berbeda artinya dengan yantra dan mandala.
  • Dalam sejumlah kasus yang ditemukan di Indonesia, khususnya dalam angka pemugaran candi, seringkali dijumpai batu atau bata yang berhias. Hiasan-hiasan itu ada yang berupa hanya garis-garis bersilang, seolah-olah tanpa arti. Namun, banyak pula yang memiliki bentuk tertentu, sehingga secara mudah kita dapat mengenalinya.
  • Pada dasarnya kuil atau candi merupakan bentuk akhir dari proyeksi-proyeksi garis yantra.
  • Titik-titik magis dari persilangan garis-garis itu merupakan tempat kedudukan dewa-dewa tertentu yang menggambarkan mandala dalam sistem keagamaan candi yang bersangkutan.
  • Seluruh komponen atau bagian yang terikat dan terkait dengan suatu candi atau gugusan percandian haruslah ditafsirkan salam suatu kesatuan mandala.

Penutup

  • Yantra merupakan suatu konsep yang melandasi bentuk pendirian suatu bangunan suci, yang pembangunannya terutama ditujukan sebagai sarana untuk menuju nirwana.
  • Vastu-Purusha-Mandala merupakan gambaran tentang posisi arca dewa-dewa dalam suatu candi.
  • Apabila Vastu-Purusha-Mandala ini digunakan sebagai dasar perencanaan suatu kota maka orientasi atau arah hadap kota itu memperhatikan kedudukan candi.
  • Mandala dapat dipahami sebagai konfigurasi kosmis yang menggambarkan keletakan kedudukan dewa-dewa berdasarkan hierarkis.
  • Awalnya, kata mandala berasosiasi dengan bangunan suci yang berkembang pada masa Weda. Namun, pada masa kemudian digunakan untuk menunjuk bentuk, gejala, atau aktivitas yang cenderung berpola melingkar.
  • Dalam adaptasi bentuknya, mandala berkembang menjadi persegi, persegi panjang, segitiga, dan sebagainya.

Soeroso. 1998/1999. Jantra dan Mandala dalam Arsitektur Candi. Berkala Arkeologi Sangkhakala No. III/1998-1999. Medan: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional – Balai Arkeologi Medan. Hlm. 41 – 57.

 


Actions

Information

10 responses

25 02 2008
Daniel Wijaksono

RUBBISH!

1 05 2008
resti

ada yang bisa bantu aku…???????

ada tugas neh,nyari gambar skema candi budha yang lengkap+penjelasannya..
kok aku gak dapet ya gambarnya…ada yang punya gak????
minta duonk……

14 08 2008
dwi retno sri ambarwati

saya sedang melakukan penelitian tentang relevansi vastu shastra dengan konsep perencanaan rumah joglo Jawa.
artikel ini sangat bermanfaat karena bisa menambah referensi. saya tunggu artikel vastushastra berikutnya. salam

22 10 2008
Dee

Thx untuk infonya

_dee_

29 10 2008
anggi

help me please,,,

dalam hindu itu ada konsep ruang nya ga yaa?? konsep ruang luar nya,, yaaa semacam lansekapnya lahh…

soalnya aku lg tugas akhir dan proyeknya area penerimanya candi prambanan…

thx before,,,,

30 10 2008
ade sukirna » Blog Archive » Yantra dan Mandala

[…] Yantra dan Mandala dalam Arsitektur Candi […]

19 08 2009
didi Ab

bisa minta refrensi buku-buku yg membahas tentang fungsi dan makna Stupa?
ada tugas kuliah..thankss

9 09 2009
udi

jangankan emas,arca saja bisa hilang.di saya ada candi .dulu ceritanya ada emasnya ,namun sudah hilang
desa kejaksan,dukuhwaru,tegal.
masih ada batu yoni dan dakonnya.dan candi dari batu bata .
by duniaemas.blogspot.com

18 10 2009
kusuma

saya sedang cari party dari bangunan kuil……
hal tersebut dapat saya temukan dimana y????

11 02 2012
Choir

Uss…gele, emang indonesia thu kya akan berbagai kebudaya’n dan tempat2 wisata.
.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: