Lwah Inalih Haken, Arti Kiasan atau Sebenarnya?

24 09 2007

Permasalahan

Lwah inalih haken adalah sepenggal kalimat yang terdapat dalam Prasasti Çiwagrha, yang berarti sugai dipindahkan. Pemindahan aliran sungai ini dilakukan karena tempat yang dilalui sungai itu akan didirikan sebuah kompleks bangunan suci (candi). Bangunan suci yang dimaksud dalam Prasasti Çiwagrha itu oleh para ahli dikaitkan dengan kompleks Candi Rara Jonggrang di Prambanan. Memang yang paling sesuai dengan gugusan candi seperti uraian dalam prasasti itu adalah Candi Roro Jonggrang. Jika ini benar berarti sungai yang dipindahkan alirannya adalah Sungai Opak yang terletak di sebalah barat candi. Permasalahannya, apakah dalam kenyataan Sungai Opak pernah mengalami pemindahan aliran sungai? Judul di atas muncul karena adanya kenyataan banhwa halaman ketiga dari kompleks Candi Rara Jonggrang ternyata tidak konsentris seperti dua halaman lainnya, tetapi agak menyerong seolah-olah untuk menghindari aliran sungai. Akibatnya, muncul pertanyaan apakah sebenarnya yang dipindahkan itu sungainya ataukah halaman ketiganya?

Ada dua ahli epigrafi yang menyebutkan adanya pemindahan aliran sungai itu berdasarkan terjemahan prasasti di atas. Namun, ternyata berbeda dalam penafsiran. Casparis menyatakan bahwa setelah kompleks percandian itu selesai dibangun maka dialihkanlah aliran sungai, sehingga menyusuri halaman candi. Sementara, Boechari justru menyatakan sebaliknya, yaitu sungai dipindahkan karena menyentuh halaman candi.

Kompleks Candi Rara Jonggrang memiliki tiga halaman, yaitu halaman I adalah halaman pusat atau halaman paling suci, halaman II pada bagian tengah, dan halaman III adalah halaman paling luar. Di sebelah barat candi mengalir Sungai Opak dan anak sungainya. Data empirik menunjukkan bahwa anak Sungai Opak ternyata mengalir melalaui halaman III atau halaman paling luar kompleks Candi Rara Jongrang, Jadi, masalahnya, jika benar ada pemindahan aliran sungai seperti yang disebutkan dalam Prasasti Çiwagrha maka sungai mana yang dipindahkan? Dan untuk membuktikan pendapat Casparis ataukah Boechari yang benar harus diketahui pada bagian mana aliran sungai yang dipindahkan itu.

Tujuan penulisan ini adalah dalam rangka mencari adanya gejala bekas pemindahan aliran sungai melalui analisis paleogeomorfologi. Berdasarkan interpretasi foto udara diharapkan tampak adanya gejala-gejala itu. Untuk mendapatkan kepastian adanya bekas aliran sungai yang dipindahkan harus diuji melalui penelitian lapangan, baik melalui ekskavasi maupun penerapan metode geolistrik.

 

Beda Pendapat Penafsiran Prasasti Çiwagrha

Prasasti Çiwagrha yang bertarikh 778 Çaka atau 856 Masehi adalah prasasti yang penting dan istimewa, karena selain memuat peristiwa sejarah yang sangat penting pada pertengahan abad IX Masehi juga terdapat uraian rinci tentang suatu gugusan candi. Dalam Prasasti Çiwagrha disebutkan bahwa pusat gugusan candi itu dikelilingi oleh tembok. Bangunan induk itu dikitari oleh bangunan-bangunan kecil yang berderet bersap-sap dengan bentuk dan ukuran sama. Gambaran gugusan candi seperti itu memang sesuai dengan kompleks Candi Rara Jonggrang.

Prasasti Çiwagrha adalah prasasti yang terkenal karena berhubungan dengan bangunan suci yang terkenal pula. Tentu para ahli terutama para epigraf sudah sangat paham akan isinya, sehingga pembicaraan mengenai prasasti ini cenderung mengulang-ulang dan mungkin sudah dianggap basi. Namun, apabila dicermati kembali, ada sesuatu yang masih mengganjal dan perlu untuk diungkap dan diluruskan, yaitu sebaris kalimat pada bait 25 baris b yang berbunyi: “Lwah ya inalih haken apaniyanid ik palmahan”. Kalimat pendek itu sangat penting artinya karena menyangkut kepentingan pembangunan sebuah kompleks bangunan suci. Hal yang dirasa masih mengganjal karena masih adanya beda pendapat di antara para ahli, khususnya Casparis dan Boechari, tentang tafsir kalimat di atas. Hingga saat ini beda pendapat itu masih berlangsung karena tidak/belum adanya upaya untuk membuktikan adanya pemindahan aliran sungai itu melalui kajian ilmu lain. Karena berhubungan dengan perubahan aliran sungai maka yang paling tepat adalah geomorfologi, khususnya paleogeomorfologi.

Beda pendapat antara Casparis dan Boechari tentang penafsiran kalimat di atas sebenarnya hanya terletak pada kata apan. Oleh Casparis, apan diartikan “sehingga”, sedangkan menurut Boechari berarti “karena”. Dengan semikian, “Lwah ya inalih haken apaniyanid ik palmahan”, oleh Casparis diterjemahkan sebagai “The (course of the) river was changed so that it rippled along the grounds.” Menurut Boechari, kalimat itu berarti “Maka dialihkanlah aliran sungainya karena menyentuh halaman candi.”

Ada perbedaan mendasar mengenai dua pengertian itu, pengertian pertama berarti aliran sungai justru dimasukkan ke halaman candi, sedangkan pengertian kedua berarti aliran sungai dipindahkan keluar halaman candi. Dengan demikian, jika pengertian pertama yang benar berarti aliran sungai harus dibelokkan ke timur. Jika pengertian kedua yang benar, seharusnya sungai dibelokkan ke barat.

 

Proses Pendirian Bangunan Suci

Candi adalah bangunan suci tempat pemujaan dewa. Hal ini telah ditegaskan oleh Soekmono dalam disertasinya yang berjudul Candi, Fungsi dan Pengertiannya. Candi melambangkan Mahameru, yaitu gunung yang menjadi pusat alam semesta. Bangunan candinya yang terdiri atas tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap candi melambangkan tiga dunia, yaitu bhurloka, bhuwarloka, dan swarloka.

Oleh karena candi adalah bangunan sakral maka proses pendiriannya tentu tidak semudah orang mendirikan bangunan rumah tinggal (yang bersifat profan). Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Disebutkan dalam Kitab Manasara-Çilpaçastra, kitab yang berisi aturan-aturan pembangunan kuil di India, bahwa sebelum suatu bangunan kuil didirikan maka arsitek pendeta (sthapaka) dan arsitek perencana (sthapati) harus lebih dahulu menilai kondisi dan kemampuan lahan yang akan dijadikan tempat berdirinya bangunan suci itu. Kitab itu juga menerangkan tentang teknik-teknik untuk mengaji calon lahan bangunan kuil, antara lain mengisi lubang uji dengan air untuk dinilai derajat kemelesakannya, dan menebar bibit tanaman di permukaan lahan yang sudah dibajak untuk dinilai tingkat kesuburannya. Dengan demikian, kitab itu menyatakan bahwa lahan tempat berdirinya suatu bangunan kuil dinilai sangat tinggi, bahkan lebih penting dari bangunan suci itu sendiri. Pentingnya lahan tempat pendirian bangunan kuil itu juga ditegaskan oleh Soekmono yang menyatakam bahwa, “Suatu tempat suci adalah suci karean potensinya sendiri”. Dengan demikian sesungguhnya yang primer adalah tanahnya, sedangkan kuilnya hanyalah menduduki tempat nomor dua. Jadi, menurut kitab itu ada dua hal penting dalam proses pendirian bangunan suci, yaitu pemilihan lahan untuk pendirian bangunan kuil dan pengujian tanahnya.

Di Indonesia, kitab (naskah Jawa Kuna) yang berisi aturan-aturan pendirian bangunan suci tidak/ belum dijumpai. Namun, tampaknya aturan-aturan dalam pendirian suatu bangunan suci juga diterapkan di sini. Petunjuk mengenai hal ini dinyatakan oleh Mundardjito bahwa dari hasil penelitian mengenai bentuk bangunan candi, ukuran, gaya, serta kegunaan atau fungsinya dapat memberi petunjuk akan adanya ketentuan, yang mungkin dapat dijadikan pangkal tolak berpikir tentang adanya aturan umum yang dipakai sebagai pedoman bagi orang masa lalu dalam rangak pembangunan candi (tertulis atau tidak tertulis).

Dalam pendirian bangunan candi, titik pusat kompleks percandian merupakan titik yang sangat penting, sehingga harus ditentukan terlebih dahulu dengan perhitungan magis. Sebagai contoh disebutkan bahwa titik pusat kompleks Candi Rara Jonggrang ternyata tidak di pusat candi induknya, tetapi di sudut selatan pipi tangga sebelah timur. Di sini ada bangunan menara kecil yang di dalamnya berisi susunan tiga batu persegi dengan tanda silang di atasnya dan garis lurus ke bawah di sisinya, seolah-olah sengaja menunjukkan titik pusat halaman percandian.

 

Analisis Paleogeomorfologi Aliran Sungai Opak

Sungai Opak terletak di antara sistem Sunagi Dengkeng di sebelah timur dan sitem Sungai Gadjah Wong di sebelah barat. Sunagi Opak mengalir melalui kota Prambanan. Sunagi Dengkeng dengan sungai utamanya Sunagi Woro atau Sungai Simping bermula dari puncak Gunungapi Merapi. Begitu pula Sungai Opak dan Sungai Gadjah Wong. Ketiga sungai ini di bagian puncak dipisahkan oleh perbukitan yang batuannya berasal dari kegiatan Merapi tua dengan batuan yang cukup kompak. Sunagi Gadjah Wong, walaupun mengalir dari daerah puncak, tetapi terlindung oleh perbukitan tersebut.

Berdasarkan peta geomorfologi (JICA, 1978), sebagian besar lereng selatan Gunungapi Merapi merupakan kipas aluvial yang terbentuk oleh piroklastik yang berasal dari Gunungapi Merapi. Endapan piroklastik membentuk kipas aluvial mulai dari ketinggian 350 m hingga ketinggian 140 m. Tebal endapan piroklastik ini tidak merata antara satu tempat dengan tempat lain, tergantung dari morfologi awal sebelum terjadi proses pengendapan yang membentuk kipas aluvial itu. Pola pengendapan piroklastik, yaitu tebal pada lembah sungai dan semakin tipis menjauhi lembah sungai.

Lingkungan fisik sistem Sungai Opak tidak terlepas dari aktivitas Gunungapi Merapi. Gunungapi Merapi merupakan gunungapi yang paling aktif di Jawa. Menurut catatan sejarah, kegiatan yang cukup hebat terjadi pada tahun 1006. Kegiatan ini dimungkinkan berkaitan dengan terjadinya kerusakan dan penimbunan beberapa candi di sekitarnya, misalnya Borobudur, Mendut, Pendem, Lumbung, an Candi Asu, semuanya di lereng barat Gunungapi Merapi. Prambanan dan peninggalan sejarah di lereng selatan, seperi yang dinyatakan oleh Verstappen bahwa lereng selatan Gunungapi Merapi pernah dilanda aliran lahar, yang sebagian besar endapannya berupa pasir.

Widiyanto (1992) dalam penelitian di DAS Woro mendapatkan bahwa daerah Plumbon, Prambanan hingga sebelah barat Gondang pernah dilanda aliran lahar. Endapan lahar ini berselang-seling dengan endapan fluvial. Bemmelen (1953) menyatakan bahwa Gunungapi Merapi pernah meletus sangat besar pada tahun 1006. Kegiatan gunungapi sebelum 1006 dinyatakan sebagai kegiatan Gunungapi Merapi Tua, sedangkan kegiatan setelah itu dinyatakan sebagai kegiatan Gunungapi Merapi Muda. Dinyatakan pula bahwa sebagian besar peninggalan sejarah berasal dari sebelum abad X kemudian ditemukan lagi peninggalam sejarah pada abad XV. Antara abad X hingga abad XV sangat langka peninggalan sejarah di sekitar Merapi. Ini dimungkinkan karena pengaruh bencana Merapi pada abad X yang maha dahsyat. Curah hujan yang tinggi di daerah Merapi menyebabkan tersangkutnya endapan piroklastik pada lereng atas, selanjutnya terjadi banjir lahar sangat besar.

Menurut pola aliran di Sungai Opak dapat dibedakan menajdi tiga penggal, yaitu penggal atas terletak di bagian hulu Tamanan, penggal tengah terletak di antara Tamaan dengan Daerah Boko, dan penggal bawah terletak di bagian hilir Boko. Tiga penggal sungai itu memberikan kenampakan yang karakteristik, yaitu penggal atas dengan pola memusat. Terjadinya pola ini disebabkan oleh adanya bottle neck di daerah Tamanan. Aliran yang semula menyebar kemudian menuju satu arah. Penggal tengah mempunyai pola saluran yang lurus, merupakan satu tubuh sungai. Penggal tengah ini terhalang oleh Perbukitan Boko, sehingga berbelok ke arah barat. Begitu pula Sistem Sungai Dengkeng, karena terhalang perbukitan kemudian berbelok ke timur. Penggal bawah terletak di hilir daerah Boko. Penggal ini dicirikan oleh aliran yang membentuk meander karena daerahnya cukup datar.

Dalam kaitannya dengan pengangkutan material piroklastik, penggal atas merupakan sumber material, penggal tengah merupakan penggal transportasi, dan penggal bawah merupakan penggal sedimentasi. Penggal atas dapat memberikan material yang terangkut oleh aliran air pada musim penghujan. Namun, penggal transportasi terganggu oleh adanya batuan kompak kelanjutan Perbukitan Boko yang terdapat di bagian baratnya. Akibat gangguan batuan ini menjadikan aliran piroklastik tidak dapat lancar dan sebagian diendapkan pada penggal tengah di dekat Prambanan. Oleh karena itu, endapan piroklastik di daerah itu sangat tebal.

Ditinjau dari pola saluran Sungai Opak di daerah Prambanan, didapatkan adanya pembelokkan sungai ke arah barat dengan pola saluran yang lurus. Saluran yang lurus ini sepanjang 1 km, kemudian berbelok ke timur sepanjang 0,5 km dan akhirnya kembali berbelok ke barat membentuk sungai bermeander. Ditinjau dari pola itu, kemungkinan besar yang berpengaruh adalah campur tangan manusia, mengingat batuan di daerah itu adalah endapan material lepas yang berasal dari gunungapi Merapi.

Dalam kaitannya dengan pola saluran Sungai Opak sebleum 1006, yaitu sebelum terjadi pengendapan lahar yang menutup sebagian besar sistem Sungai Gadjah Wong, Sungai Opak, dan Sungai Woro, sistem sungai yang terbentuk sekarang mempunyai pola yang serupa. Oleh karena itu dimungkinkan pula pengaruh aktivitas manusia sebelum 1006 mempengaruhi bentuk saluran yang ada sekarang, yaitu terjadinya pembelokkan aliran Sungai Opak di sebelah utara kompeks candi dan di sebelah selatan rel kereta api.

Untuk menelusur kedudukan dan pengaruh campur tangan manusia dalam merubah arah aliran Sungai Opak dapat dilakukan dengan penelusuran pola sebaran batuan di daerah itu dengan pendekatan geolistrik. Hal ini mengingat jika dilakukan dengan ekskavasi membutuhkan dana yang sangat besar dan kemungkinan lahan di daerah itu telah digunakan untuk berbagai keperluan.

 

Kesimpulan

Dari kitab yang berisi aturan-aturan pendirian bangunan suci dari India, yaitu Manasara-Çilpaçastra dapat diketahui bahwa lokasi pendirian bangunan suci sangat penting, bahkan lebih penting dari bangunannya sendiri Aturan-aturan itu walaupun tidak dijumpai dalam naskah-naskah Jawa Kuna tampaknya juga diterapkan dalam pendirian candi-candi di Indonesia. Hal ini telah dibuktikan oleh Mundardjito dalam penelitian terhadap penempatan situs-situs candi di daerah Yogyakarta. Secara tegas dinyatakan bahwa pemilihan lokasi yang dikaitkan dengan pertimbangan-pertimbangan ekologis sangat penting. Di samping itu, bagi suatu bangunan suci, penentuan titik pusat sangat penting. Penentuan titik pusat ini dilakukan melalui perhitungan magis, sehingga kemungkinan letaknya tepat di tengah sungai.

Dengan pengetahuan akan pentingnya lokasi dan titik pusat suatu bangunan suci maka tampaknya benar apa yang diuraikan dalam Prasasti Çiwagrha tentang Lwah inalih haken. Pendapat itu ternyata didukung oleh data paleogeomorfologi. Melalui analisis paleogemorfologi dapat diketahui adanya tiga pola aliran Sungai Opak, yang terdiri atas penggal atas, penggal tengah, dan penggal bawah. Pada penggal tengah tampak adanya pola saluran lurus, yang diperkirakan adanya campur tangan manusia. Melalui pengamatan paleogeomorfologi ternyata sistem Sungai Opak yang terbentuk sekarang mempunyai pola yang serupa dengan sistem sungai sebelum terjadinya pengendapan lahar tahun 1006. Dengan adanya pembelokan sungai ke barat dengan pola aluran lurus sepanjang 1 km, kemudian berbelok ke timur sepanjang 0,5 km, dan kembali berbelok ke barat membentuk sungai bermeander itu tampaknya untuk sementara pendapat Boechari tentang pemindahan aliran sungai adalah benar. Untuk mendapatkan kepastian akan kebenaran pendapat Boechari itu harus diuji melalui penelitian lapangan. Dengan penelusuran pola sebaran batuan melalui pendekatan geolistrik kiranya merupakan alternatif bagi penelitian lapangan dengan biaya relatif lebih murah dibanding ekskavasi.

 

Baskoro D. Tjahjono, Staf Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta

Widiyanto, Staf pengajar pada Jurusan Geografi Fisik, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

 

Tjahjono, Baskoro D. Dan Widiyanto. 1994. Lwah Inalih Haken, Arti Kiasan atau Sebenarnya?. Berkala Arkeologi Tahun XIV (Edisi Khusus) Evaluasi Data dan Interpretasi Baru Sejarah Indonesia Kuna. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Hlm. 47-51.


Actions

Information

2 responses

6 11 2007
badai

yth pemilik blogs ini, saya mencari kajian hal serupa tetapi tentang situs percandian di daerah bawah pegunungan gunungkidul, jika mempunyai informasi bisakah saya dibantu?

30 10 2008
ade sukirna » Blog Archive » Lwah Inalih Haken

[…] Lwah Inalih Haken, Arti Kiasan atau Sebenarnya? […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: