Curatorial

Bayang-bayang Prambanan

(antara Mitos, Logos dan Inter-religi)

Oleh Mikke Susanto

Salah satu alasan mengapa agama tampak tidak relevan pada masa sekarang karena banyak di antara kita tidak lagi memiliki rasa bahwa kita dikelilingi yang gaib.


Karen Amstrong, Sejarah Tuhan


Secara khusus manusia masa lampau terkenal memiliki dua pola berpikir, berbicara dan memperoleh pengetahuan: mitos dan logos.[1] Keduanya sering mereka sebut sebagai pengetahuan, atau melengkapi pikiran untuk mencapai kebenaran. Pengetahuan itu mereka peroleh dengan beberapa teknik, yaitu membuat prasangka atau suatu anggapan benar, padahal baru merupakan kemungkinan; mengarungi intuisi atau suatu pendapat yang diangkat dari perbendaharaan pengetahuan terdahulu melalui proses yang tak disadari dan seolah-olah muncul begitu saja; serta mengenal metode coba-salah. yang oleh orang masa kini disebut trial and error.


Mitos dan logos sendiri seperti dua keping mata uang. Mitos dianggap utama, karena terkait dengan sesuatu yang abadi dan selalu ada dalam esensi kita. Mitos adalah cara untuk melihat asal-usul, berurusan dengan makna dan tidak terkait dengan hal-hal praktis. Oleh sebab itu mitos sering bersandar pada pikiran tidak sadar atau bentuk ”kuno” dari psikologi. Mitos menimbulkan nuansa suci dan estetik bagi mereka yang telah mencapai tingkatan lanjut dan mendalam. Seperti mistisisme, ia adalah satu hal yang selalu terkait dengan mitos untuk menelusuri kejiwaan melalui penggunaan aturan-aturan terfokus.


Logos sendiri adalah pemikiran rasional, pragmatis dan ilmiah. Logos juga terkait dengan fakta dan bersesuaian dengan realitas eksternal. Tidak seperti mitos, yang merujuk pada masa lalu, logos terus berjalan ke depan dan berusaha menemukan sesuatu yang baru. Logos berfungsi pula untuk mewujudkan sesuatu, menuntaskan pekerjaan atau membujuk orang lain melakukan tindakan yang sama. Namun logos tak mampu membendung rasa pedih dan sedih, memahami tragedi, dan tak mampu menjawab nilai puncak kehidupan.


Kehidupan masa kini memang jauh berbeda dengan masa lalu. Menjadi religius dalam pengertian konvensional memang tidak mudah pada masa kini yang serba realistis. Keseimbangan antara mitos dan logos yang terus ditata oleh orang-orang pada masa lalu, akan terus menghadapi tantangan di masa kini. Banyak yang mengatakan bahwa modernisasi membawa dampak yang mengarah pada keterpisahan antara keduanya.


Pada masa lalu, seni (seperti musik, lukisan atau goresan, pahatan) adalah mitos yang dipraktikkan atau mitos yang diejawantahkan. Ia bahkan menjadi media dalam upacara-upacara keagamaan. Kisah-kisah atau tanda-tanda simbolik seperti pada lukisan dan ukiran adalah usaha untuk mengungkap kekaguman dan mengungkap misteri yang luas ini dengan kehidupan mereka sendiri. Pada masa Paleolitik misalnya, ketika budaya agraris berkembang, kultus terhadap Dewi Ibu (seperti Dewi Venus, Dewi Sri atau contoh lain) mengungkap perasaan kesuburan yang mentransformasi kehidupan manusia sebenarnya adalah sakral. Kisah-kisah dramatis dari berbagai rangkaian cerita dan mitos semacam ini atau lainnya sangat membantu manusia untuk menyuarakan perasaan mereka tentang kekuatan dahsyat yang kasad mata, namun mengelilingi mereka.


Dewa Brahma, Dewa Wisnu, Dewa Shiwa, Lorojonggrang, Bandung Bondowoso, Batara Kala, Kalpataru bersama Kinara Kinari, Ramayana, Mandala, dan cerita binatang mitologi di Prambanan adalah contoh yang menarik dalam melihat kehidupan. Kisah-kisah mereka bukanlah peristiwa faktual tentang asal-usul kehidupan, melainkan suatu upaya simbolik untuk mengungkap sebuah misteri besar dan membebaskan kekuatan sucinya. Perlambang-perlambang di atas mungkin tidak secara praktis berfungsi, tetapi merupakan salah satu cara untuk menjelaskan eksistensi pemikiran masa lalu. Bahkan sangat mungkin bahwa berbagai mitos di Prambanan memberi kita wawasan tentang spiritualitas yang melahirkan wacana tentang Tuhan Pencipta berabad-abad kemudian.


Banyak diakui secara pribadi bahwa melalui cerita dan perlambang pada peninggalan candi seperti ini, orang-orang masa kini tahu bahwa dirinya lahir dari orang tua yang berbeda keyakinan religinya. Bahkan beberapa perupa yang ikut serta dalam pameran ini[2] sempat terkejut bahwa melalui Prambanan menjadi tahu bahwa dirinya kini adalah ”makhluk baru” dalam rangkaian cerita religi masa silam sebuah peradaban. Syahdu nian. Kita bertemu secara imajinatif bersama para leluhur lewat sebuah mitos.


Karya-karya dan foto dokumenter yang ada dihadapan Anda di Jogja Gallery adalah sebentuk perasaan tentang kisah Prambanan dan hal lain yang melingkupinya saat ini. Karya-karya tersebut secara artistik bukan ingin menyaingi kemegahan fisik Prambanan, melainkan justru menguak berbagai rangkaian yang ada selama ini. Sedangkan secara ideologis, karya-karya ini ingin meyakinkan publik untuk tetap percaya bahwa peninggalan masa lalu yang diwariskan pada kita adalah sebuah penanda penting yang harus terus diabadikan. Kita tahu, Prambanan kini sedang ”luka” oleh gempa, sedang mitos-mitos yang mengelilinginya bergentayangan meminta perhatian.


Salah satu upaya utama dalam pengerjaan karya adalah gagasan mengenai hubungan inter-religi. Hal ini penting dilakukan, karena keberadaan masing-masing keyakinan dan agama saat ini sedang dalam masa krisis yang maha hebat. Terjadinya benturan keyakinan agama (baik yang terjadi secara internal dalam sebuah agama maupun benturan antar agama) semakin menambah persoalan dalam kehidupan. Inilah masa dimana logos seperti jauh berperan lebih aktif. Inilah masa dimana pengalaman keberagamaan kita di jaman modern sedang diuji atau berubah.


Dipakainya ”inter-religi” sebagai tajuk dalam pameran ini karena ingin mencoba menelaah kembali peran agama dan keyakinan dalam mengupayakan keberadaan manusia dan budayanya secara lebih seimbang. Upaya untuk saling toleran antar keyakinan diyakini dapat menjadi ”senjata” untuk mengedepankan berbagai keperluan. Jika masyarakat plural (seperti di Indonesia ini) telah berada di wilayah yang aman dan nyaman melaksanakan hak spiritualnya, maka ia akan menjadi pengayom berbagai ”bunga zaman”, menjadi penjaga berbagai kebudayaan yang pernah dihasilkan oleh masyarakat sebelumnya, sekaligus dengan adaptif menerima semua perubahan dan modernisasi. Maka tak salah kemudian, lewat karya seni sebagian perupa berupaya mengingatkan kembali peran masyarakat pra-Indonesia yang memiliki toleransi tinggi terhadap keyakinan spiritualitas yang berbeda (lihat sejarah agama Hindu & Buddha).


Karya-karya dalam pameran ini juga memuat kisah-kisah Prambanan yang ”ringkih”. Bukan saja karena alam (gempa maupun lainnya), tetapi juga karena hingga saat ini secara historis ilmiah, berdirinya Prambanan belum juga menampakkan titik terang. Karya Darwis Triyadi, Pande K. Taman, Yayat Surya, Ismanto, Setyo Priyo Nugroho, Andre Tanama adalah beberapa yang lain secara visual tetap menampakkan figur dan sosok candi tersebut. Mereka ingin memperlihatkan betapa Prambanan bukanlah benda budaya yang memiliki dunia yang terhenti oleh anggapan ilmiah, jelas dan logos. Mereka tahu, Prambanan mudah sekali ”luka”, ”goyah” dan ”remuk redam” atau hancur karena isu, gosip atau karena hal yang sesungguhnya tidak terjelaskan. Peran dan cara mereka dalam membawakan isu inter-religi dan mitos spiritual ke dalam karya patut mendapat perhatian lebih. Artinya Prambanan dalam kondisi apapun, dapat dicerna sebagai sebuah mitos tiada henti dan tak akan hilang meski tubuh Prambanan telah raib sekalipun.


Di lain tempat, terdapat pula karya-karya yang mencoba menelisik jejak masa lalu dengan mengetengahkan objek-objek masa kini. Karya mereka banyak memakai objek atau benda-benda yang ada dan dipakai saat ini. Secara khusus bila dikaitkan dengan Prambanan, penggunaan objek mungkin terkesan sangat jauh. Karya Koni Herawati (dengan menggunakan objek batu bata), Ugi Sugarto (memakai pot bunga jenis Anthurium yang nilainya kini sangat tinggi), Wimo Ambala Bayang (memakai lanskap Nusa Tenggara), Endang Lestari (membuat objek privat secara khusus), Dani Agus Yuniarta (menggambar cap jempol) adalah contoh aplikasi ”mitos” objek masa kini yang dipakai untuk merajut dan melangkah ke masa lalu. Meski memakai objek masa kini, kehendak untuk mengikat persoalan ruang-waktu dalam melihat artefak masa lalu seperti Prambanan dalam karya mereka dapat diantisipasi. Singkatnya mereka hendak menggulirkan wajah dan wacana baru tentang Prambanan (atau mungkin mereka sedang menawarkan mitos baru Prambanan-kah?).


Dunia logos, ilmiah, memang akan terus menggerus kita. Penyelidikan saintifik dalam berbagai ranah kehidupan memang akan membawa dampak hidup yang penting pada kita, namun salah satu akibat lain adalah hilangnya kepekaan pada yang ”spiritual” atau yang ”suci”. Namun jangan takut atau lupa bahwa secara alamiah, manusia kerap memasuki dan merasakan kegirangan liar yang memabukkan, ketenteraman mendalam, terkadang merasa kecut, kagum, hina di hadapan kehadiran yang religius, yang ada dalam setiap aspek kehidupan. Ini bukti otentik sifat manusia yang sering dikelilingi oleh sesuatu yang gaib.


Prambanan dalam pameran ini menjadi sebuah penanda atas aspek kehidupan yang maha gaib itu.
Tampak di luar sana, di kompleks candi Prambanan, ”bayang-bayang” tengah menanti. Akan terus tegakkah tubuh candi yang kini sedang ”luka”? Mampukah orang-orang masa kini menjaga keseimbangan mitos dan logos dalam kehidupan seperti yang dibawa oleh Prambanan? Tapi apa kita akan terus bertanya? Lalu apa peduli kita? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang hendak terus-menerus ingin ditularkan pada Anda melalui pameran ini.

Soal luka Prambanan akibat gempa, biarlah logos yang lebih berperan. +++


[1] Sloek, Johannes, Devotional Language, Penerbit Henrik Mossin. Berlin dan New York, 1996, p. 53-96.

[2] Saya terkejut ketika banyak perupa yang mempertanyakan eksistensi religi orang tuanya (entah ayah, kakek, buyut) yang kadang terasa aneh untuk ukuran saat ini. Pada diskusi pra-eksibisi, bersama beberapa pembicara dari UGM di Jogja Gallery 7 Oktober 2007, mereka mempertanyakan proses ritual sampai ideologi agama yang terasa membaur antara satu dan lainnya. Hal ini ditandai dari pembahasan aliran sesat dalam internal agama tertentu, perihal Islam-Kejawen, agama Syiwa, Kristen-Jawa, maupun pertukaran ritual antara Hindu Jawa & Hindu Bali pada peringatan “Tawur Agung” di Prambanan yang lalu.

 

***********************************************

 

 

The Shadows of Prambanan

(among Myth, Logos and Inter-religion)

By Mikke Susanto

One of the reason why the religion seems irrelevant nowadays is that most of us are no longer feeling surrounded by the mystical being.

Karen Amstrong, The History of God

The history has noted that man used to have two ways of thinking, speaking, and acquiring knowledge: myth and logos.[1] Both of them were called knowledge, completing the mind to reach what was called a divine truth. Those knowledges were acquired through several techniques, which are making prejudice or some correct opinion, eventhough it was only a single possibility, going through intuition or the opinion which was raised from the basic knowldge and schemata of previous experiences through the undebatable process, as if it was innate, as well as through the trial and error processes.

Myth and logos themselves are like the two sides of a coin. Myth is considered as the main thing, for it is closely related to the perpetuality and exist is our very essence. It is the way to see and explain the origin, dealing mostly with meaning and far from the practical thing. Thus, myth is depending on the subconscious mind or the archaeic form of psychology. Myth is also suggesting a sacred and aesthetic nuance to those in expert and deeper level. Like mysticism, it is the only thing always related to the myth to explore the psyche through the focused rules.

Logos itself is a rational, secientific, and pragmatic thinking. It is also related to the fact and goes along with the external reality. Unlike myth, which is referring to the past, logos sees the future onward and always trying to see new things. It also functioned as thetool to manifest something, finishing works, or convinving others to do the same thing. But above all, logos is still unable to hold the sorrow and agony, understanding and accepting tragedy, and most importantly, explaining the very value of life.

The life nowaday is far different from what we have in past. Being religious in conventional way is certainly not easy in this realistic era. The balance between myth and logos which was maintained by past people, will keep being a challenge now. Most people now will say that the modernity will bring about the separation between both.

***

In the past, art (like music, painting, craving) is a practical myth, a manifested myth. It even became the media in a religious ceremony. Tales or the symbols as in painting and craving is the effort to show the admiration and devotion as well as trying to cope with the wide mystery of the world in their own life. In Paleolithic era, for example, when agriculture was developing, the cult towards The Mother (such as Venus, Dewi Sri, or many others) reveal the opinion that the fertility whch resulting a human is sacred. The draatic tales from many epic and myth like these were helping man much to voice their feeling of an invisible great power surround them.

Brahma, Wisnu, Shiwa, Lorojonggrang, Bandung Bondowoso, Batara Kala, Kalpataru and Kinara Kinari, Ramayana, Mandala, and the fables in Prambanan is one interesting example in seeing life. Their stories were not the factual events on the origin of life, but a symbolic effort to unveil a great mystery and unbind it divinity. The symbols above were probably not working practically, but those were one way to explain the existence of past thinking. It’s not impossible that all the myths in Prambanan gave us the discourse of spirituality, which then gave birth to the discourse of God the creator centuries later.

Personally, many people admit that through the story and symbolization in the temple like this, they realized that they were born from the predecessor with different faith and religion. Even some involving artists[2] were quite surprise that through Pambanan, they realized their ”rebirth” in the past religious epic of a civilization. So contemplative. We meet our predecessor through a myth.

***

The works and documentary picture that you face in Jogja Gallery are a form of feeling towards Prambanan’s long tales and other things surround it. These works are not meant to replace and compete with the grandness of Prambanan aesthetically, but reveal and unveil things implied in it. Ideologically, these works are meant to convince people to keep believing that the cultural heritages given to us are the important signifie to preserve. We know and realize that Prambanan is now ”wounded” by the earthquake, and the surrounding myths now yielding for the attention.

One of the main thing in creating the works is the idea of the inter-religion relationship. This is important, because the existence of every religion are now in the middle of a great crisis. The clash of religion (internally within it or among them) contributes more problem in life. This is the moment where logos plays a more important role. This is the moment where our diversity in modern era was tested.

The use of ”inter-religion” as the main emphasis in this exhibition is because we should re-analyze the role of religion and faith in accomplishing the balance of human existence and their culture. The tolerance effort among religions are believed as the main weapon to fulfill many needs. If the plural society (like Indonesia) is placed in a comfort zone in conducting their spiritual right, then they will provide the guidance as the ”flower of the era”, being a guardian of the culture of previous civilization, but at the same time adaptively accepting all the changes and modernity. So it is not wrong, if through arts, some artists remind us the role of pre-Indonesian society, with their strong tolerance towards other different fauths and religions (see the history of Hinduism and Buddhism).

The works in this exhibition also include the tale of ”fragile” Prambanan. Not only by nature (earthquake or others), but also the lack of scientific explanation on the origin of Prambanan. Darwis Triyadi, Pande K. Taman, Yayat Surya, Ismanto, Setyo Priyo Nugroho, and Andre Tanama are those who keep putting the figure of the temple visually. They want to show that Prambanan is not a cultural thing which is stopped, static, by the logos, clear scientific explanation. They know, Prambanan is so ”fragile” by the issues, gossip, and many unexplainable things. Their way and role to bring about the inter-religion and spiritual myth within the works are plausible. It means that Prambanan, in every circumstances, can be understood as the endless and eternal myth, even though the physical form may perish.

In other places, there are works trying to explore the past through the present objects. They used many objects and things from the present. Specifically, in relation to Prambanan, the use of the object seems so far from the essence. Koni Herawati’s work (with the brick as her object), Ugi Sugiarto’s (using the expensive Anthurium), Wimo Ambala Bayang’s (the landscape of Nusa Tenggara), Endang Lestari’s (making her private object), and Dani Agus Yuniarta’s (drawing a fingerprint) are the example of the application of present object to step backward to the past. Eventhough using the present day object, the might to bind space and time matter to see archaeic artifacts like Prambanan in their works can be anticipated. In short, they want to provide a new face and discourse about Prambanan (or are they offering a new myth of Prambanan?).

The scientific and logos realm will keep coming at us, Scientific investigation in every aspect of our life will bring about the important implication toward us, but it also eliminate our sensitivity towards spirituality or sacred matter slowly. But don’t be afraid or forget tha naturally, man often entering and feeling the wild and seducing ecstacy, deep solemn, sometimes afraid and anxious in front of Religious being, within every aspects of life. This is the authentic proof of human nature surrounded by the spiritual things.

Prambanan, in this exhibition, signifies the apiritual aspects of our life. And out there, in the Prambanan complex, the ”shadows” are waiting. Can the ”wounded” temple stand firm? Can our people maintain the balance of myth and logos in life like Prambanan? But are we keep questioning? Then are we care enough? These questions will keep hauting you through the whole exhibition.

Let logos play its role in healing the earthquake wound in Prambanan. +++


[1] Sloek, Johannes, Devotional Language, Penerbit Henrik Mossin. Berlin dan New York, 1996, p. 53-96.

[2] I’m surprised to see many artist were questioning their parents’ religion existence, which were seemed so strange nowadays. In the pre-exhibition discussion, together with some speakers from UGM in Jogja Gallery, October 7, 2007, they asked for the ritual and ideological process of certain religion that mis one another. This was signified by the discussion of wrong path within certain religion. On Islam Kejawen, Religion of Syiwa, Javanese Christianity, or even the acculturation of Javanese Hinduism and Balinese Hinduism in “Tawur Agung” in Prambanan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: