Wişņu

20 09 2007

Dalam agama Hindu, Wişņu merupakan salah satu dewa Trimurti yang dianggap sebagai dewa pemelihara dunia. Pemujaan terhadap Wişņu telah disinggung dalam Ŗg-Weda, Yajur-Weda, Sama-Weda, dan Atharwa-Weda. Dalam kitab-kitab itu, Wişņu belum dianggap sebagai dewa yang tinggi kedudukannya seperti pada masa selanjutnya. Dikatakan bahwa Wişņu mempunyai sifat sebagai matahari, dan telah mengunjungi tujuh bagian dunia. Ia mengelilingi dunia dengan tiga langkah (tiwikrama). Wişņu merupakan dewa yang menjelma dalam tiga wujud; api, halilintar, dan sinar matahari. Ketiga wujud ini menunjukkan tiga wujud perjalanan matahari; terbit, mencapai cakrawala (zenit), dan terbenam. Kedudukan Wişņu sebagai dewa matahari dalam agama Hindu masih dikenal dalam bentuk samar-samar. Penyembahan pada Wişņu dalam bentuk matahari biasanya disebut Surya Narayana. Pemujaan Surya Narayana pada umumnya dikerjakan pada hari Minggu dan pada hari-hari besar tertentu. Dalam kitab Ŗg-Weda disebutkan bahwa Wişņu merupakan pelindung. Dari sinilah asal mula benih-benih yang kemudian berkembang menuju semakin tingginya kedudukan Wişņu di masa kemudian.

Peningkatan status Wişņu

Dalam kitab-kitab Weda, Wişņu kadang-kadang dianggap sebagai korban yajŋa, sehingga ia disebut sebagai yajŋaNarayana. Tiga dewa serangkai yang disebut dalam kitab Weda sebagai prototype dari dewa Trimurti pada masa kemudian adalah Agni sebagai dewa dunia, Wayu sebagai dewa angkasa, dan Surya sebagai dewa langit. Hal itu didasarkan pada tugas Trimurti, yaitu membinasakan, yang biasa dilakukan oleh Çiwa, yang intinya dapat ditemukan dalam kekuatan yang dimiliki oleh angin ribut (Wayu). Bersama dengan Dewa Wayu yang dianggap sebagai dewa angin, dipuja pula Dewa Indra sebagai dewa matahari atau dewa dari angkasa yang terang benderang. Angkasa yang terang benderang ini dikuasai oleh Wişņu dan Indra. Menurut kitab Weda, Wisnu menerima warna biru dari Indra. Berkat Indra pulalah Wişņu mendapat sebutan Wasudewa. Demikian juga melalui Indra, dihubungkan dengan pahlawan dunia.

Dari kitab Mahābhārata dapat diketahui pertumbuhan Wişņu yang semakin meningkat. Wişņu yang mula-mula sebagai dewa matahari, kemudian meningkat menjadi salah satu dewa Trimurti dan kemudian menjadi tokoh sentral. Sejarah perkembangan kedudukan Wişņu dapat diikuti dengan jelas dalam kesusastraan India Kuno. Dalam epik Mahābhārata, Krsna dan Arjuna, meskipun tidak jelas hubungannya dengan Surya, dan berdasarkan sifat-sifat Indra yang menjadi dewa langit dapat diketahui dengan samar-samar hubungannya antara Surya dan Wişņu melalui Indra. Kedudukan Wişņu yang tinggi dan anggapan bahwa Wişņu merupakan salah satu dari Dewa Trimurti dapat ditemukan dalam kitab-kitab Itihasa dan Purana serta kitab-kitab kesusastraan India yang membicarakan tentang ilmu arca. Read the rest of this entry »

Advertisements




Çiwa

19 09 2007

Çiwa dalam mitologi Hindu dikenal sebagai dewa tertinggi dan banyak pemujanya. Mitos Çiwa dapat dijumpai dalam beberapa kitab suci agama Hindu, yakni kitab-kitab Brāhmana, Mahābhārata, Purāna, dan Āgama.

Dalam kitab Hindu tertua, Weda Samhita, walaupun nama Çiwa sendiri tidak pernah dicantumkan, tetapi sebenarnya benih-benih perwujudan tokoh Çiwa itu sendiri telah ada, yaitu Rudra. Dalam Ŗg-Weda salah satu Weda Samhita, disebutkan Rudra sebagai dewa perusak dan tergolong sebagai dewa bawahan. Rudra dikenal sebagai penyebab kematian, dewa penyebab dan penyembuh penyakit, juga dianggap sebagai desa yang menguasai angin topan. Untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk itu maka Rudra dipuja secara istimewa dengan doa-doa khusus untuk menenangkan dan menghilangkan kemarahannya.

Namun, sebagai dewa rendahan, walaupun banyak dipuja, Rudra belumlah merupakan dewa tertinggi dan dianggap penting. Pada waktu itu yang dianggap sebagai dewa tertinggi dan dianggap penting adalah Indra. Baru pada kitab Brāhmana, Rudra diberi nama Çiwa dan kedudukannya pun terus meningkat, sehingga menjadi dewa utama. Read the rest of this entry »





Matarām

18 09 2007

Sekilas tentang Kerajaan Hindu – Buddha Masa Jawa Kuno

Matarām di Jawa Tengah

Kerajaan Matarām kita kenal dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Canggal (barat daya Magelang). Prasasti ini berangka tahun 732 M, ditulis dengan huruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sanskerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Çiwa) di atas sebuah bukit di daerah Kuŋjarakuŋja oleh Raja Saŋjaya. Daerah ini letaknya di sebuah pulau yang mulia, Yāwadwîpa, yang kaya raya akan hasil bumi, terutama padi dan emas.

Peta Indonesia dan Jawa Tengah

Yāwadwîpa ini mula-mula diperintah oleh Raja Sanna, yang lama sekali memerintah dengan kebijaksanaan dan kehalusan budi. Setelah Raja Sanna wafat, pecahlah negaranya, kebingungan karena kehilangan perlindungan. Naiklah ke atas tahta kerajaan, Raja Saňjaya, anak Sannāhā (saudara perempuan Sanna), seorang raja yang ahli dalam kitab-kitab suci dan dalam keprajuritan. Ia menaklukkan berbagai daerah di sekitar kerajaannya dan menciptakan ketentraman serta kemakmuran yang dapat dinikmati oleh rakyatnya.

Sanna dan Saňjaya terkenal pula dari Carita Parahyangan, sebuah kitab dari zaman kemudian sekali yang terutama menguraikan sejarah Pasundan. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Sanna dikalahkan oleh Purbasora dari Galuh dan menyingkir ke Gunung Merapi. Tetapi, penggantinya, Saňjaya, kemudian menaklukkan Jawa Barat dan kemudian Jawa Timur serta Bali. Pun Malayu dan Keling (dengan rajanya Sang Çriwijaya) diperanginya. Dalam garis besarnya, cerita ini sesuai juga dengan Prasasti Canggal.

Mendirikan sebuah lingga secara khusus adalah lambang mendirikan suatu kerajaan. Bahwa Sanjaya memang dianggap sebagai Wamçakarta dari Kerajaan Matarām, dinyatakan juga dari prasasti-prasasti para raja yang berturut-turut menggantikannya. Di antara prasasti-prasasti itu ada beberapa dari Balitung yang memuat silsilah, dan yang menjadi pangkal silsilah itu adalah Raka i Matarām Sang ratu Saňjaya. Bahkan ada pula prasasti-prasasti yang menggunakan tarikh Saňjaya! Dari kedua kenyataan ini dapatlah jelas betapa besarnya arti Saňjaya itu bagi raja-raja yang kerajaannya berpusat di Jawa Tengah sampai abad X M. Read the rest of this entry »





Prasasti Siwagrha

17 09 2007

Terjemahan Sebuah Prasati Jawa Kuno Berirama dari 856 A.D.

  1. // Swasti ………………………
  2. nyalaka …………………………
  3. .. // saçri ……………………….
  4. nang jetrakula ………………
  5. nyāpita // ……………………..
  6. The young prince ………, in possession of royal majesty (?), protected the country of Java, righteous and with …., majestuous in battles and in feasts (?), full of fervour and perfect, victorious but free from passion, a Great King of excellent devotion.
  7. He was Çaiwa in contrast to the queen, the spouse of the hero; exactly a year was the time of the …..; ….. stones heaped up by hundreds for his refuge, a killer as fast as the wind ….. Bālaputra.
  8. A king, perfect in (this) world, ……….., a protection for his comrades, indeed a hero who knew the duties of his rank; he adopted a name proper to a family of honourable Brahmanas (rich in) arts and virtues, and established his kĕraton at Mĕdang situated in the country (?) of Mamrati.
  9. After these (deeds), the king Jatiningrat (“Birth of the World”) resigned; the kingship and the keraton were handed over to his successor; Dyah Lokapala, who was equal to a younger brother of the (divine) Lokapalas; free were the subjects, divided into the four āçramas with the Brāhmanas ahead. Read the rest of this entry »




Prambanan, Selayang Pandang

17 09 2007

Tiga halaman kompleks Candi Prambanan

Pembagian Halaman Candi
Kompleks Candi Prambanan dibagi menjadi tiga halaman. Halaman pusat tempat berada kelompok candi-candi utama yang terdiri dari empat candi kelir, dua candi apit di utara dan selatan, empat candi sudut di setiap sudut halaman pusat, tiga candi untuk dewa-dewa utama Hindu, dan tiga candi di hadapan candi-candi utama. Halaman kedua jumlah seluruh candi perwara yang ada dulunya 224 candi. Halaman terluar atau halaman ketiga tidak terdapat candi.

Keletakan Tiap Halaman
Halaman pusat keletakannya lebih tinggi daripada halaman kedua dan ketiga (terluar). Keletakan demikian merupakan suatu kesengajaan, mengingat tanah yang ada pada halaman pusat ini merupakan tanah urug.

Makna Simbolik Pembagian Halaman
Menurut konsepsi Hindu, dunia manusia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Bhurloka, dunia tempat segala hasrat yang bersifat keduniawian ada.
  2. Bhuvarloka, dunia tempat segala hasrat keduniawian sudah terlepas, tetapi masih terikat oleh bentuk lahiriah keduniawian.
  3. Svarloka atau Svargaloka, tempat segala keterikatan duniawi telah terlepas. Manusia tidak terikat lagi oleh karma.


Sejarah Kompleks Candi Prambanan

  • Pendiriannya dikaitkan dengan Prasasti Siwagrha yang berangka tahun 778 Caka (856 M).
  • Pertanggalan secara relatif berdasarkan gaya seni bangunannya yang dicirikan dengan terutama yang tampak pada bagian kaki candi oleh adanya bentuk belah rotan (half round), sisi genta (ojief), dan pelipit; dapat dikatakan bahwa candi dengan bentuk demikian berasal dari kurun waktu sekitar abad VIII – IX M. Read the rest of this entry »