Kalpataru

16 10 2007

 

  • Candi merupakan replika dari gunung Meru yang dihias dengan berbagai ragam hias yang disesuaikan dengan alam lingkungan gunung itu. Hiasan-hiasan itu antara lain berupa makhluk kahyangan, seperti Gana, Apsara, Vidyadara, Gandharwa, dan Kinara-Kinari.
  • Untuk lebih memperkuat kedudukannya sebagai perwujudan Meru maka pada beberapa candi juga dihias dengan kalpataru yang merupakan pohon kahyangan.
  • Kalpataru, atau yang disebut juga Kalpawrksa, merupakan sebutan pohon yang dikenal dalam mitos di India.
  • Pohon ini juga disebut Kalpadruma atau devataru dan termasuk satu dari lima jenis pohon suci yang ada di kahyangan Dewa Indra. Kelima pohon suci itu disebut pancawrksa, yang terdiri atas pohon Mandara, parijata, Samntana, Kalpawrksa, dan Haricandana.

Kalpataru

 

 

Kalpataru

 

  • Kalpataru berasal dari akar kata ‘kalp‘ yang berarti ‘ingin atau ‘keinginan‘, pohon yang dapat mengabulkan segala keinginan manusia yang memujanya.
  • Menurut Soediman, Kalpataru berasala dari kata ‘kalpa‘ yang berarti ‘masa dunia‘, suatu periode yang sangat lama, yaitu periode antara penciptaan dan penghancuran dunia. Serta, ‘taru‘ yang berarti ‘pohon‘.

 

Pemujaan Pohon

  • Dalam sejarahnya, pemujaan terhadap pohon sudah dikenal di India sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Pemujaan pohon ini bermula dari kepercayaan yang menganggap bahwa setiap benda yang terdapat di alam ini mempunyai kekuatan. Di atas semua itu ada sesuatu kekuatan besar yang disebut kekuatan supernatural.Kepercayaan ini muncul bersamaan dengan berkembangnya pemujaan terhadap tanah dan air.
  • Tanah sering diidentikkan dengan Dewi Ibu (Mother Goddess), yang dalam kebudayaan agraris dianggap sebagai dewi ‘yang melahirkan’ segala sesuatu di dunia ini termasuk tumbuh-tumbuhan yang dibutuhkan manusia.
  • Tanah, dalam hal ini dianggap mempunyai hubungan religius magis dengan manusia yang bertempat tinggal di atasnya.
  • Air merupakan unsur terpenting yang diperlukan dalam proses pertumbuhan.

 

Kalpataru di Indonesia

  • Dalam sumber-sumber tertulis, Kalpataru pertama kali dijumpai dalam Prasasti Kutai. Prasasti ini menyebutkan kebaikan budi sang Mulawarman yang berwujud sedekah dalam jumlah banyak. Karena banyaknya jumlah sedekah itu maka dapat diibaratkan seperti sedekah kehidupan atau pohon kalpawrksa.
  • Dalam cerita Tantu Panggelaran juga disebutkan tentang suatu tempat yang bernama Hiranyapura yang dipenuhi Kalpataru.
  • Kalpataru juga ditemukan dalam karya-karya sastra Jawa kuna, seperti Udyagoparwa, Brahmandapura, Ramayana, Arjuna Wiwaha, dan Hariwijaya.

Kalpataru Tujuh Cabang - Borobudur

 

 

Kalpataru pada Candi

  • Kalpataru biasanya digambarkan di candi-candi sebagai hiasan ornamental, berupa pohon yang dihiasi oleh manik-manik dan permata.
  • Di bawah pohon biasanya digambarkan terdapat pundi-pundi yang mengelilingi pohon itu.
  • Di atas pohon biasanya terdapat sebuah payung
  • Di kiri kanan pohon terlihat binatang (atau makhluk) pengapit
  • Di atas bertengger burung-burung
  • Kesemuanya ini merupakan satu kesatuan yang melambangkan arti simbolis tertentu
  • Kadang dalam pemahatannya, kalpataru dirangkaikan dengan relief cerita tertentu.
  • Penggambaran relief Kalpataru hanya dijumpai di beberapa candi dari periode jawa tengah, yaitu candi Borobuduru, Pawon, Mendut, Sojiwan, Banyunibo, dan Prambanan.
  • Candi Prambanan merupakan satu-satunya candi Hindu yang memiliki hiasan Kalpataru.

Kalpataru di Prambanan

 

 

Bentuk Penggambaran Kalpataru

  • Berdasarkan mitologi, pohon ini memiliki ciri antara lain daun-daunnya selalu berwarna hijau, berbunga indah dengan bau yang semerbak, berbuah penuh dengan berbagai ratna mutu manikam, mempunyai ratusan rantai emas dan untaian mutiara yang bergantungan di dahannya.
  • Di dekat pohon juga digambarkan adanya berbagai binatang sebagai penjaga terhadap kesucian pohon itu.
  • Kadang di sekeliling pohon juga diberi pagar atau tembok untuk memelihara kesuciannya.
  • Di atas pohon sering pula ditaruh payung yang berfungsi untuk melindungi pohon itu dari terik matahari dan hujan.
  • Walaupun kalpataru digambarkan memiliki ciri-ciri seperti itu di atas, akan tetapi dalam penggambarannya dalam bentuk relief, tidak semua ciri dapat ditampakkan. biasanya hanya ciri-ciri yang bersifat konkrit saja yang dapat digambarkan, misalnya adanya pundi-pundi, pengapit, untaian manik-manik, dan permata, serta hiasan payung.
  • Kadang-kadang, dalam penggambarannya ini ada salah satu komponen yang dihilangkan ataupun diganti dengan komponen yang lain. Kemungkinan ini terjadi karena para seniman memiliki kebebasan dalam mengembangkan kreativitasnya sepanjang tidak melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

 

Mitologi Kalpataru

  • Di India dikenal beberapa pohon yang dianggap suci karena adanya kepercayaan bahwa jenis pohon tertentu diyakini bisa memenuhi segala keinginan manusia. Salah satunya adalah kalpataru.
  • Kalpataru termasuk salah satu dari lima jenis pohon suci yang terdapat di kahyangan Dewa Indra. Kelima pohon itu dikenal dengan nama Pancawreksa, terdiri atas Mandara, Parijata, Samtana, Kalpawrksa, dan Haricandana.
  • Sebagai pohon pengaharapan, kalpataru juga disebut Kamadugha, yaitu sebagai pemberi segala hasrat dan mengabulkan segala keinginan manusia. Dengan demikian, manusia yang bernaung di bawahnya akan terkabul semua yang diharapkan.
  • Kekayaan, wanita muda, dan segala bentuk kesenangan lainnya akan muncul pula dari pohon-pohon itu.
  • Di samping dapat memberikan kesenangan duniwai pada manusia, pohon ini juga dapat menolong manusia dalam mencapai kebahagiaan akhir, yaitu moksa.

 

  • Kalpawrksa merupakan padanan dari kalpataru yang secara harafiah berarti pohon yang dapat mengabulkan semua keinginan manusia yang memujanya.
  • Pohon ini sering dipakai sebagai hiasan yang dipahatkan pada asana dewa atau singgasana raja.
  • kalpataru juga sering dipahatkan di sini dalam Mukta prapanga (berbentuk halaman terbuka), mandapa, dan istana raja.
  • Penggambarannya berupa sebuah pohon yang dililit oleh seekor ular berkepala lima dengan ekornya yang sangat panjang. Kepala ular ini menjulur ke atas pohon.
  • Banyaknya cabang serta besarnya cabang sangat bervariasi disesuaikan dengan arti penting dari singgasana itu.
  • Pohon ini juga dihiasi dengan tumbu-tumbuhan menjalar serta untaian manik-manik.
  • Pada ranting dan cabangnya keluar berbagai macam bunga dengan berbagai macam bentuk.
  • Di sekitar pohon dipahatkan berbagai makhluk, seperti kera, dewa, dan makhluk-makhluk setengah dewa.

 

  • Simbol kalpawrksa ini sangat populer pada masa kesenian India awal dan berkembang pada masa Gupta dan masa-masa berikutnya.
  • Simbol Kalpataru juga dikenal dalam beberapa bentuk variasinya yang kemudian menimbulkan bentuk kalpavalli atau kalpalata.
  • Hiasan itu berupa daun-daunan yang menjalar dengan sulur daun yang saling menjalin, beberapa diantaranya dipahatkan bersama pohon pengharapan.
  • Motif Kalpataru atau kalpalata memang banyak disebutkan dalam sejumlah karya Kalidasa karena merupakan suatu simbol yang dihiasi dengan keindahan bentuk.
  • dalam kitab Meghaduta dan Bhanabhata, Kalidasa menyebut nama kalpawrksa sebagai sumber segala macam perhiasan dan dandanan yang biasa dipakai oleh kaum wanita di Alaka, misalnya kain yang indah dan bunga-bunga penghias.
  • Dalam cerita Mahavanija Jataka diceritakan tentang sekelompok pedagang kaya yang sedang dalam perjalanan berniaga, berhenti di bawah sebatang pohon untuk beristirahat. tiba-tiba dari cabang sebelah timur menetes titik air, yang kemudian diminum oleh pedagang itu. Sementara itu, cabang di sebelah mengeluarkan berbagai macam jenis makanan.
  • Menurut Kitab Paligatha, pohon itu menghasilkan air jernih, makanan, gadis cantik, dan segala sesuatu yang baik-baik yang dimiliki pohon itu, sehingga pohon ini sering dipuja-puja.
  • Dalam epik dan kitab-kitab Purana, konsep tentang pohon pengharapan banyak disinggung pada waktu menceritakan pulau yang dianggap ideal, yaitu Uttarakuru.
  • Gambaran mengenai Pulau Uttarakuru dijelaskan dalam kitab Mahabharata. pulau ini digambarkan sebagai tempat yang memiliki bermacam-macam buah-buahan dan bunga-bungaan, serta pohon-pohonan yang menghasilkan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Selain itu, pohon ini juga menghasilkan pakaian dan perhiasan. Manusia yang hidup dalam suasana seperti itu akan merasa bahagia dan puas, seperti dewa-dewa yang bebas dari pengaruh kesedihan dan penyakit.
  • Penggambaran Pulau Uttarakuru dalam bentuk relief dapat dilihat di pintu gerbang utara, pada pilar sebelah barat Stupa Besar Sanchi. Pohon itu diletakkan di antara ukiran ikat pinggang berbentuk bunga teratai yang menjalar. Di situ digambarkan sepasang muda-mudi yang sedang bermain musik dan dikelilingi oleh burung-burung serta binatang lain. mereka duduk di bawah naungan cabang pohon yang penuh dibebani dengan berbagai hiasan mahal.

 

  • Pada panil-panil di Mohenjodaro, pohon pengharapan tampaknya sangat dimuliakan dan akhirnya dijadikan sebagai objek pemujaan yang universal di India.
  • Pohon ini dipuja dengan cara menuangkan air pada akar-akarnya, mengikatkan potongan-potongan kain tertentu pada dahannya, memberi warna merah pada batangnya sebagai lambang darah, dan berjalan mengelilinginya sebanyak delapan kali.
  • Upacara-upacara seperti itu diperintahkan bagi upacara perkawinan dan pemenuhan nadzar.

 

  • Pada beberapa materai yang ditemukan di lembah Sungai Indus (Pakistan sekarang), terlihat pahatan pohon yang dihubungkan dengan dewa bertanduk dan makhluk-makhluk mitos, seperti unicorn (sejenis kuda bertanduk pada dahinya) dan manusia burung (kinara). Di dalam Atharwa-weda, pohon ini bahkan dianggap sebagai tempat duduk para dewa dan dihuni oleh berbagai dewa, antara lain Laksmi, istri Wişņu.
  • Pada sebuah materai yang lain digambarkan seorang dewa dalam keadaan telanjang berada di antara cabang dengan disertai oleh para pengiringnya, yaitu beberapa wanita.
  • Pada sebuah ajimat yang terbuat dari tanah liat, terlihat seorang dewa yang digambarkan seolah-olah sedang menanam sebuah pohon menurut upacara keagamaan tertentu.

 

  • Kehadiran sekelompok binatang mitos, seperti unicorn, ibex (sejenis kambing liar), banteng, kalajengking, ular kobra, dan lipan di sekitar pohon menunjukkan bahwa binatang-binatang itu berfungsi untuk menjaga keamanan pohon dari serangan mabkhluk-makhluk jahat yang hendak mencuri buah-buahan yang mengandung daya pemberi hidup.
  • Kadang-kadang di sekitar pohon juga diberi pagar untuk menjaga kesuciannya.

 

  • Kepercayaan akan kekeramatan dan keangkeran pohon-pohon itu berawal dari suatu pandangan terhadap lingkungan alam tempat manusia hidup.
  • Pandangan semacam itu muncul karena pada masa itu keadaan alam masih sangat liar dan buas, penuh dengan hutan belantara yang ditumbuhi segala macam pohon besar dan tumbuhan liar.
  • Dipenuhi pula dengan berbagai macam binatang buas, burung-burung liar, dan berbagai makhluk lain yang menghuni hutan tersebut.

 

  • Berawal dari kepercayaan akan adanya kekuatan ghaib yang tersembunyi di balik pohon-pohon besar itu, kemudian manusia berusaha mencari perlindungan padanya dengan jalan melakukan pemujaan dan berbagai upacara lainnya.
  • Dengan demikian, mereka akan terhindar dari berbagai bahaya yang mungkin muncul dari pohon itu.

 

  • Mengenai pemujaan terhadap pohon-pohon yang dikatakan sebagai pohon bersejarah yang tertua di dunia ini, berkembang berdasrakan legenda pra-Buddhis, sebagaimana ditunjukkan oleh pohon suci yang terdapat dalam catatan tentang Pencerahan Sang Buddha.
  • Rupanya hal itu berkembang dari pemujaan terhadap pohon yang sudah dimulai sejak zaman purba di India.
  • Jenis pohon ini dikenal dengan istilah Ficus religiosa.
  • Berdasarkan mitologinya, pada pohon jenis religiosa ini terkandung kekuatan magis, daya pengobatan, dan daya pemberi hidup yang sangat menonjol.
  • Sebelum mendapat kedudukan yang mantap dalam masyarakat Buddhis, Hindu, dan Jain, pohon jenis ini sudah diyakini sebagai tempat tinggal para dewa.

 

  • Dalam kitab Rgveda juga dikenal pohon Asvattha yang dikatakan sebagai tempat tinggal Dewa Yama bersama arwah-arwah dari orang yang sudah meninggal.
  • Hingga sekarang, pohon asvattha masih dianggap keramat oleh masyarakat di beberapa daerah di India, sehingga pohon itu tetap dipuja dan disembah dengan rasa takut dan segan.
  • Oleh karena pohon ini mengandung kekuatan magis yang sangat berbahaya, sehingga tidak boleh ditempatkan di dekat rumah. Juga pada waktu upacara keagamaan tidak boleh disebutkan namanya.

 

  • Upacara keagamaan terhadap kalpataru juga dilakukan setiap tahun dan diperuntukkan bagi Dewa Indra. Upacara ini disebut Indramahotsava dan biasanya diadakan di dalam lingkungan kediaman raja, yang kemungkinan sampai sekarang masih dijadikan adat kebiasaan.
  • Upacara ini diawali dengan memilih sebuah pohon di hutan, kemudian ditebang dan dibersihkan dari cabang dan ranting-ranting yang tidak diperlukan. Selanjutnya pohon itu dibawa ke kota dengan iring-iringan besar.
  • setelah tiba di kota, pohon itu dihias dengan payung untuk melindunginya dari panas, bunga-bunga, lonceng besar dan kecil, cermin, kipas, dan benda-benda lain yang sejenis, agar tampak seperti kalpataru yang sebenarnya.
  • Pohon itu lalu diletakkan dan diberi tahanan pengikat delapan tali besar seperti ke delapan cabang samping kalpataru dan diarahkan ke empat arah mata angin.
  • Selama upacara berlangsung, raja dianggap sebagai Dewa Indra.
  • Pada upacara ini juga dilengkapi dengan tari-tarian, nyanyian, pujian, permainan, dan upacara persembahan.

 

  • Bukti-bukti mengenai kepercayaan terhadap pohon tertentu juga dikenal di Indonesia, meskipun tidak sebanyak yang ditemukan di India.
  • Dalam sumber tertulis di Indonesia, Kalpataru pertama kali dijumpai pada Prasasti Kutai. Prasasti ini menyebutkan tentang kebaikan budi seorang raja bernama Mulawarman berwujud sedekah yang banyak sekali. Oleh karena banyaknya sedekah itu hingga dapat diibaratkan seperti sedekah kehidupan atau pohon kalpawrksa.

 

  • Dalam cerita Tantu Panggelaran juga disebutkan tentang sebuah tempat yang bernama Hiranyapura yang dipenuhi dengan kalpataru.
  • Kalpataru juga disebutkan dalam kitab-kitab sastra Jawa Kuna, seperti Udyogaparwa, Brahmandapura, Ramayana, Arjunawiwaha, dan Hariwijaya.

 

  • Tampaknya kepercayaan terhadap pohon ini di Indonesia tidak hanya terbatas pada masyarakat yang sudah terpengaruh oleh kebudayaan Hindu saja, tetapi ternyata pada beberapa suku bangsa Indonesia yang hampir tak terjangkau oleh pengaruh Hindu, seperti suku Dayak Ngaju dan Batak Toba, sudah sejak dahulu percaya terhadap kekeramatan dan kesucian pohon.
  • Orang-orang suku Dayak Ngaju mempercayai kekeramatan dan kesucian pohon kehidupan, mereka percaya bahwa dari poho ini lahirlah sepasang manusia laki-laki dan perempuan. Dari pasangan ini kemudian lahir tiga anak yang masing-masing mewakili golongan rohaniawan, rakyat lapisan atas, dan rakyat lapisan bawah.
  • Pohon ini dikatakan tumbuh di atas puncak gunung yang dihuni oleh roh-roh nenek moyang.
  • Dikatakan pula bahwa pada puncak pohon ini terdapat air kehidupan.

 

Perkembangan munculnya Pohon Hayat di Jawa

(menurut M.M. Sukarto K. Atmodjo)

  • Zaman prasejarah

Kepercayaan terhadap ‘pohon hayat’ yang muncul pada masa prasejarah berkaitan dengan paham animisme dan dinamisme. Pada waktu itu masyarakat percaya bahwa pada beberapa pohon tertentu terdapat kekuatan ghaib yang menjadi sumber hidup dan mampu mengabulkan segala permohonan manusia. Adapun pohon yang dianggap penting pada waktu itu adalah pohon Waringin, yang berasal dari akar kata ‘ingin‘ dan mendapat awalan ‘war‘ (dalam bahasa Indonesia menjadi Beringin). Selain itu juga terdapat pohon Awar-awar, Timaha, dan pohon Pelet.

 

  • Zaman Jawa-Hindu

Baik agama Hindu ataupun Budha yang dianut di Indonesia keduanya mengenal ‘pohon hayat’. Dalam agama Buddha, pohon hayat ini dikenal dengan nama ‘pohon Bodhi‘ yang dikaitkan dengan Pencerahan yang diterima Pangeran Sidharta. Setelah agama Buddha masuk Indonesia, nama pohon itu dikaitkan dengan pohon Waringin yang keduanya termasuk jenis Ficus religius.

 

Adapun dalam agama Hindu, pohon ini dikenal dengan nama kalpataru, kalpawrksa, dan memiliki arti yang dengan pohon Waringin. Menurut sumber-sumber naskah Jawa Kuno sebagaimana dikutip oleh Aichele mengenai pohon kalpawrksa dalam dua bentuk. Pertama, pohon kalpawrksa yang merupakan pohon surga dan berhubungan dengan cerita mitos. Kedua, pohon kalpawrksa sebagai pohon dunia yang wujudnya dapat diamati dengan panca indra dan berupa pohon emas. Lebih lanjut, Aichele tidak menjelaskan apakah pada kedua pohon itu terdapat perbedaan maupun persamaan dalam ciri-cirinya.

 

  • Zaman Jawa – Islam

Pada zaman ini kepercayaan orang Jawa terhadap ‘pohon hayat’ telah mengalami perkembangan lebih lanjut. Orang Jawa menggambarkan pohon hayat ini dalam bentuk hiasan ‘Gunungan‘ yang merupakan bentuk lain dari kalpataru. Hiasan semacam ini dapat dilihat di kompleks masjid dan makam Sunan Sendang dan juga pada pertunjukkan wayang.

 

 

  • Zaman Sekarang

Sampai sekarang sisa-sisa kepercayaan terhadap pohon hayat ini masih samar-samar, seperti yang tampak pada kepercayaan sebagian masyarakat Jawa pada ‘pohon waringin kurung’ yang terdapat di Alun-alun Kraton Yogyakarta.

 

 

  • Di Pulau karimunjawa, sampai sekarang masih ditemukan pohon keramat yang diberi nama pohon dewadaru, yang mungkin perubahan dari kata dewataru.
  • Menurut cerita setempat, pohon ini berasal dari sepasang tongkat seorang anak yang terdampar di pulau itu.
  • Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang ayah tega mengusir putra kesayangannya karena anak itu berani membangkang perintahnya. Anak itu kemudian pergi meninggalkan Pulau Jawa dengan naik perahu. berhari-hari perahu yang ditumpanginya dihantam badai dan gelombang, hingga akhirnya ia terdampar di Pulau Karimunjawa. Setelah berjalan lama dengan kedua tongkatnya, ia beristirahat di Desa Nyamplungan. Ketika akan duduk, ia menancapkan kedua tongkatnya di atas tanah dan tiba-tiba kedua tongkat itu berubah menjadi dua pohon besar. Pohon itu dinamakan pohon dewadaru yang artinya anugerah dewa.
  • Sampai sekarang mitos tentang kesaktian pohon ini masih dipercaya oleh sebagian besar penduduk Pulau Karimunjawa. Pohon ini diyakini dapat menyembuhkan penyakit perut atau sebagian penawar dari gigitan ular berbisa yang banyak berkeliaran di pulau tersebut. Bahkan pohon ini dapat dijadikan sebagai semacam ajimat untuk melindungi diri dari berbagai kejahatan manusia, di samping itu juga sebagai penolak dari gangguan roh-roh jahat.

Munir, Misbachul.1997. Hiasan Kalpataru pada Candi Budha Periode Jawa Tengah (Tinjauan terhadap Bentuk, Pola Penempatan, dan Fungsi). Skripsi Sarjana Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta


Actions

Information

3 responses

8 06 2009
....................

thankz bwat informasinya

2 11 2009
ade

cool, deep philosophy…

13 01 2010
sikapsamin

Secara pribadi berdasar pengakuan dunia tentang SANGIRAN, ingin sekali menarik “benang-merah” tentang adanya sebuah POHON BESAR KEHIDUPAN (Kalpataru) yg berdiri Kokoh, Rindang di Sangiran.
Adanya Peninggalan Paling-Purba di Nuswantara, menjadi ‘World’s Heritage’.
Bisa kita maknai sebagai SAKA-UTAMA atau AJI-SAKA Kehidupan Berbagai Bangsa di Dunia.

Mari kita Kontemplasikan bersama…

Semoga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: